Welcome...

Selamat datang di blog saya. Senang sekali ada yang mau berkunjung. Mencoba menjadi penulis yang baik. Menuliskan topik yang terjadi di sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi, lumayan panjang (walaupun capek mikir dan ngetik wakakaka...), inspiratif, informatif, dan tidak membosankan pembaca (karena saya males baca sebenarnya)... Semoga blog ini bermanfaat buat semua yang mampir. Terima kasih... :)

Thursday, October 9, 2014

Semoga Bukan Mimpi-Mimpi Pudar

Sebelum menutup hari ini, aku menerima pesan dari seorang sahabat dari masa kuliah dulu. Dia mengatakan sudah semakin mantap dengan pilihan masa depannya. Sekarang dia sudah mulai menjalani kursus dan proses orientasi untuk pekerjaan pertamanya setelah menjalani masa internship usai lulus menjadi dokter.

Aku juga sempat melihat-lihat facebook teman-teman dari masa kuliah dulu. Salah seorang mentor yang sangat kukagumi saat kuliah termasuk di dalamnya. Aku sangat mengagumi dan bangga padanya. Melihat foto-fotonya serta kabar dari sahabat waktu kuliah dulu membuatku tertampar. Mengapa? Karena aku masih labil seperti ini. Belum tahu apa yang aku inginkan untuk spesialisasi nantinya. Masih bermalas-malasan dan membuang-buang waktu percuma. Sepertinya latihan disiplin yang aku terapkan tidak berhasil.

Mengenang masa lalu berarti kembali diingatkan akan mimpi masa muda. Ketika aku masih muda belia dulu, aku sempat bermimpi mengenai masa depan seperti apa yang ingin aku jalani. Hampir sepuluh tahun berlalu, mimpi itu masih ada akan tetapi kemalasan serta ketidakdisiplinan terlalu kuat.

Aku masih ingin mewujudkan mimpi tersebut tapi rasanya takut tidak mampu.

Aku masih berharap dan berdoa semoga mimpi-mimpi tersebut Bukan Mimpi-Mimpi Pudar

Aku ingin menutup hari ini dengan senyuman dan secercah harapan akan hari esok yang lebih baik.

Aku masih ingin bermimpi dan mewujudkan mimpi

Wednesday, October 8, 2014

Last Words

Kemarin malam aku bermimpi tentang dirinya. Mungkin hal itu disebabkan aku sebelum tidur memandangi foto-fotonya. Ya. Aku rindu padanya. Ini pertama kalinya aku kembali merindukannya setelah sekian lama tidak pernah memikirkannya lagi.

Aku tahu aku tidak boleh memikirkannya. Aku tahu tidak boleh merindukannya. Aku tahu tidak boleh jatuh cinta padanya. Karena dia bukan milikku. Walaupun begitu dalam hati ini kembali ada kenyakinan bahwa aku akan bersamanya. Aku tidak boleh lagi melakukan bahkan sampai memikirkan apapun tentang dirinya.

Malam ini aku kembali memikirkannya. Tidak sengaja aku menemukan fakta bahwa dia memang sebaik yang aku pikirkan. Hanya saja aku tidak boleh.

Untuk terakhir kali dan sebelum semuanya pudar, aku ingin mengatakan, "Aku cinta padamu."

Selamat berbahagia...

Thursday, October 2, 2014

Respon Hati Yang Benar

Beberapa hari yang lalu, aku membaca tentang Wanita yang Lebih Muda (baca di sini Wanita yang Lebih Muda) dan Wanita yang Lebih Tua (baca di sini Wanita yang Lebih Tua). Aku sangat terberkati dengan tulisan-tulisan tersebut.

Selama ini aku hidup menurut apa yang menurutku baik dan walaupun tahu mengenai Firman Tuhan akan tetapi seringkali tidak mengindahkannya. Begitu juga ketika aku mendapat teguran dari mama mengenai bagaimana caraku memberi respon terhadap sesuatu. Apa yang sering mama nasehati sama persis seperti apa yang dikatakan dalam tulisan tersebut. Aku jadi ingat dengan pernyataan seorang dokter spesialis anak yang selama ini membantuku belajar tentang "Orangtua Selalu Benar" (baca selengkapnya di sini Orangtua Selalu Benar). Aku benar-benar terkejut. Kenapa? Karena mamaku secara waktu tidak begitu lama kenal Tuhan dan bila dilihat dari tingkat pengetahuannya tentang Alkitab, aku mah jauh lebih pintar dari mama (kok jadi sombong yah), tapi mama itu sangat bijaksana banget. Aku sangat terberkati karena punya orangtua yang menjagaku dari segala pergaulan buruk walaupun saat itu mereka belum kenal Tuhan.

Hari ini aku mengamat-amati kelakuan orang-orang dan bagaimana cara mereka berespon terhadap sesuatu. Hmm... Aku berharap dapat belajar memberikan respon yang benar...

Orangtua Selalu Benar

Beberapa hari belakangan ini aku sedang belajar mengenai bagaimana cara menghadapi pasien yang benar. Proses belajar ini dibantu oleh seorang relawan dokter spesialis anak konsultan endokrin. Setiap hari beliau akan memberi masukan terhadap bagaimana aku bersikap kepada pasien, mulai dari memperkenalkan diri, anamnesa, pemeriksaan fisik, pemberian terapi dan lain sebagainya.

Ada satu hal yang paling berkesan dalam proses ini, yakni pernyataan beliau bahwa "Orangtua selalu benar." Jadi jangan pernah meremehkan respon orang tua terhadap kondisi anaknya meskipun kadang kala menurut kita itu terlalu berlebihan dan kadang tidak masuk akal. Mengapa seperti itu? Karena orangtualah yang paling memperhatikan dan mengerti mengenai anaknya.

Suatu pernyataan yang sederhana akan tetapi memberi dampak yang besar.

Ketika merenungkan kembali pernyataan tersebut, aku kembali diingatkan akan betapa jahatnya responku terhadap orangtuaku sendiri. Bukannya mendengarkan malah membangkang. Hmm... Bagaimana ketika aku nanti menjadi orangtua dan anakku bersikap kurang ajar padaku seperti yang aku lakukan pada orangtuaku sendiri? Pastinya aku akan sedih sekali...

Jadi, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bersikap baik pada orangtuaku sendiri. Memberikan respon yang benar dengan hati yang benar...

Terima kasih papa mama yang sudah membesarkanku. Bersikap sabar terhadap kelakuanku yang jahat ini.

Wednesday, October 1, 2014

Tiga Peristiwa, Satu Hari

Hari ini ada dua hal yang sangat memberkatiku.

Pertama adalah sharing seorang teman yang tetap memuji Tuhan dan tidak menghujat/menyumpahi orang yang telah merampok dan merusak mobilnya.

Kedua adalah tulisan seorang teman tentang "Pemburuk". Tulisannya bisa dibaca di sini
http://majalahpearl1.blogspot.com/2014/09/si-pemburuk.html

Kadang... Dalam hidup banyak sekali hal ataupun orang atau kejadian yang membuat hatiku panas sehingga ingin mengeluarkan amarah dan sumpah serapah. Setiap kali aku mencoba untuk bertahan, mengatakan ingin memaafkan, akan tetapi dengan kemampuan sendiri aku tidak mampu. Pada akhirnya aku menyerah dan berkata, Tuhan, aku tidak mampu. Tolong ajari agar aku bisa mengampuni orang yang berbuat jahat padaku. Engkaulah yang menjadi hakim atas aku dan mereka.

Malam ini, seperti biasanya kami ada acara kumpul, makan bersama dan cerita-cerita. Hasil percakapan itu membuatku menyadari mengenai

Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
Amsal 16:2

Saat menulis blog ini ada seorang adik kelas yang curhat mengenai masa lalunya. Mengenai penyesalannya. Percakapan malam ini bersamanya mengajarkanku untuk ketika mengampuni, tidak ada lagi kata penyesalan. Mengajarkanku untuk move on dari masa lalu

Tuesday, September 30, 2014

Even The Past...

Tonight I got lecture from endocrinology pediatrician about how to taking history from the patients. She is one of my fave teacher. Taking history is not only about recently complaint but also past medical history because past medical history sometimes is related with.

Believe or not. Like or dislike. Sometimes in our life, we try to forget about the past. Sometimes we try to rid out our past but we forget that PAST PLAYS THE MOST IMPORTANT part in life. Who we are now is a product from the past. Past always follows us in the future.

What I learn from this... Cleanse your past with the Christ valuable blood then face tomorrow

Sunday, September 28, 2014

Aku dan Kamu, Aku dan Tuhan (Semoga Bukan Ilusi)

Hembusan angin yang beberapa waktu belakangan ini terasa dingin meremukkan tulang, malam ini terasa hangat. Aliran hangat tersebut menemaniku dalam perjalanan pulang dari klinik menuju ke rumah. Berbagai macam hal berkeliaran liar dalam benakku. Ada dua hal yang menggangguku belakangan ini.

Seorang teman berkata padaku, "Ada dua hal yang tidak boleh didoakan untuk pasangan hidup. Pertama, tidak seiman. Kedua, sudah punya pacar/tunangan." Perkataan ini mengganggu sekali. Aku tahu merupakan hal yang salah apabila mendoakan pacar/tunangan orang lain, dan sudah berusaha untuk merelakannya tapi bagaimana caranya mengkompromikan pikiran dan perasaan? Dia sudah tidak pernah lagi kusebut dalam setiap doa-doaku. Sekali-sekali dia muncul dalam setiap lamunanku tanpa bisa dicegah.

Hari ini di gereja untuk kesekian kalinya aku mengajar sekolah minggu kelas remaja. Hari ini kami belajar mengenai "Hal Mengikut Tuhan." Sungguh... Pelajaran ini menohok tepat di jantungku. Terasa sakit. Tuduhan-tuduhan pun kembali menderaku karena selama ini ternyata aku masih naik turun dalam ikut Tuhan. Aku masih belum konsisten/disiplin ikut Tuhan. Masih banyak penyangkalan diri yang aku harus lakukan. Masih banyak salib yang yang harus aku pikul. Masih banyak kebiasaan buruk yang harus aku tinggalkan.

Perjalanan dari klinik terasa singkat. Tetesan air perlahan berjatuhan dari langit. Mungkinkah ini hanya ilusi semata. Seperti juga ilusi bahwa sebenarnya dia pun punya perasaan sama kepadaku. Bukan sekedar memberi harapan yang tidak pernah menjadi nyata. Seperti komitmen-komitmen yang aku nyatakan kepada Tuhan. Apakah aku juga memberikan harapan palsu kepada-Nya? Apakah aku pun sama sepertinya?

Peluh membasahi sekujur tubuhku terasa ketika aku memarkirkan sepeda di tempat penyimpanan sepeda. Bersama-sama dengan keempat sepeda lainnya, dia akan menghabiskan malam bersama dengan aman karena kukunci sebelum memasuki rumah. Mandi. Itulah yang akan kulakukan selanjutnya.

Tubuhku telah disegarkan dengan sejumlah air yang tidak seberapa di bak mandi akibat kelangkaan air di rumah ini. Ketika aku menulis blog ini, aku mendengar tetesan-tetesan air turun deras dari langit membasahi tanah yang memberi kehidupan kepada pohon-pohon yang menghijau di Gunung Palung.

Oh ternyata aku tidak menghayal. Hujan ini bukanlah ilusi. Aku pun berharap yang terjadi antara aku dan kamu bukanlah ilusi. Aku berharap apa yang terjadi antara aku dan Tuhan pun bukanlah ilusi.