Welcome...

Selamat datang di blog saya. Senang sekali ada yang mau berkunjung. Mencoba menjadi penulis yang baik. Menuliskan topik yang terjadi di sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi, lumayan panjang (walaupun capek mikir dan ngetik wakakaka...), inspiratif, informatif, dan tidak membosankan pembaca (karena saya males baca sebenarnya)... Semoga blog ini bermanfaat buat semua yang mampir. Terima kasih... :)

Saturday, July 7, 2012

Ketika Aku Mulai Terlalu Banyak Mengeluh

Sudah sebulan ini aku mempunyai "suami". Suami dalam tanda kutip karena sebenarnya dia itu adikku yang dipikir oleh dokter, perawat, dan juga pengunjung lain di rumah sakit sebagai suamiku. Nah "suami"ku ini benar-benar bikin pusing karena dia sangat rewel. Semua hal yang tidak kuinginkan dimiliki oleh "suami beneran"ku nanti dia miliki. Semua hal yang tidak ingin "suami beneran"ku lakukan dia lakukan. Bener-bener menguras emosi menghadapinya. Dan selama beberapa waktu belakangan ini aku jadi dongkol. Mengomel dalam hati. Yah cuma bisanya mengomel dalam hati karena aku tidak berani mengomel langsung ke orangnya. Tujuannya yah tentu saja untuk menghindari konflik.

Hari ini ntah kenapa ketika sedang capek-capeknya setelah membersihkan dapur. Menunda membersihkan kamar mandi dan halaman. Tiba-tiba aku diingatkan mengenai "kehidupan pernikahan"ku kelak. Pernikahan memerlukan usaha. Diperlukan kerja keras dan komitmen untuk menjadikannya berhasil. Ketika aku mengatakan aku mencintai suamiku, apakah aku benar-benar mencintainya? Apakah aku bisa menunjukkan cintaku padanya dengan keluhan-keluhan? Dengan kemarahan? Dengan omelan? Tentu saja tidak... Seharusnya aku mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri. Dia bukan bagian dari diriku sendiri melainkan adalah diriku sendiri. Jadi jika aku mencintai diriku sendiri. Jika aku memperlakukan diriku sendiri dengan baik. Apakah aku akan memperlakukan dia dengan tidak baik? Tentu saja tidak...

Pada saat itu aku diingatkan mengenai wanita yang terdapat dalam Amsal 31:10-31 tentang Puji-Pujian Untuk Istri Yang Cakap

Ayat 10: Istri yang cakap siapakah yang akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata
Ayat 11: Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan
Ayat 12: Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya
Ayat 13: Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya
Ayat 14: Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya
Ayat 15: Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan
Ayat 16: Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya
Ayat 17: Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.
Ayat 18: Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam
Ayat 19: Tangannya ditaruh pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal
Ayat 20: Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.
Ayat 21: Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seisi rumahnya berpakaian rangkap
Ayat 22: Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.
Ayat 23: Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri
Ayat 24: Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang
Ayat 25: Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan
Ayat 26: Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya
Ayat 27: Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.
Ayat 28: Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:
Ayat 29: Banyak wanita yang telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.
Ayat 30: Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji.
Ayat 31: Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

Membaca isi Amsal ini, aku sadar aku masih banyak kekurangan. Masih banyak hal dari diriku yang harus ditambahkan untuk menjadi "Istri" baik istri buat Allah maupun suami di dunia. Menjadi seorang istri yang baik perlu kerja keras. Dia harus menjadi orang yang bisa melakukan segalanya. Dia harus bisa menjadi segalanya.

Kadang aku berpikir lebih enak jadi pria dibandingkan wanita. Namun pemikiran itu diubahkan. Keberadaan wanita dibutuhkan untuk menjadi penolong bagi pria. Wanita diperlukan untuk menjaga rumah agar tetap nyaman. Wanita diperlukan untuk mengasuh anak-anak. Wanita perlu menjadi kuat.

Wanita-wanita Allah adalah wanita-wanita yang kuat. Wanita-wanita Allah adalah wanita-wanita perkasa. Wanita-wanita Allah adalah harta kekayaan Allah yang melebihi permata. Wanita-wanita Allah adalah wanita yang memuliakan Allah dan menjadi kebanggaan suaminya dan anak-anaknya.

Wanita... 

Wednesday, July 4, 2012

Ketika Jatuh Dari Motor

Dua tiga hari ini aku ngobrol secara cukup mendalam dengan beberapa orang. Tidak tahu mengapa topik obrolan tersebut mengingatkanku akan pengalaman dulu. Apa yang terjadi?

Hampir empat bulan yang lalu seorang teman dekat menikah dan aku diundang. Prosesi pernikahannya dilangsungkan di Makassar. Walaupun lumayan jauh, aku memutuskan untuk menghadiri pernikahannya sekaligus menyempatkan diri pulang. Selama di rumah, aku sering sekali mendesak adik untuk mengajariku naik motor. Mengapa aku ingin belajar naik motor? Menurut seorang teman, ketika PTT nanti transportasi yang paling banyak digunakan adalah sepeda motor. Kalau ingin PTT, harus belajar naik motor.

Sebenarnya setahun yang lalu aku pernah belajar. Waktu itu aku yakin cukup mampu mengendarainya. Pertama kali belajar aku langsung bisa dan tidak pernah jatuh. Semakin banyak latihan semakin sempurna bukankah demikian? Walaupun merasa cukup yakin bisa, namun aku tetap ingin mencoba karena selama di Jakarta aku sama sekali tidak pernah mengendarai motor sendiri. Akhirnya aku mendesak adikku untuk mengizinkanku mencoba. 

Pada waktu yang disepakati bersama dengannya aku mengendarai sepeda motor. Awalnya semua berjalan dengan lancar namun ketika tiba di belokan berpasir tiba-tiba dia membuat aku panik dengan berseru berkali-kali. Dia menyerukan agar aku menurunkan gigi dan gas. Akibatnya aku sulit berkonsentrasi dan akhirnya hampir menabrak. Sebelum menabrak, aku menjatuhkan motor ke kanan. Kami berdua jatuh bersamaan. Motor lecet, untungnya tidak rusak. Lutut, siku dan jari-jari kakiku berdarah. Sakit sekali. Aku sudah menangis kecil menahan sakit. Selama beberapa waktu luka tersebut berdarah dan terasa sakit. Selain berdarah, luka tersebut membuatku sulit untuk menekuk kaki. Luka-luka tersebut meninggalkan bekas hingga sekarang.

Terus... Apa hubungannya antara obrolan masa kini dengan kejadian aku jatuh dari motor empat bulan yang lalu?

Hidup menuntut kita untuk melakukan semua hal dengan kecepatan penuh. Berlomba-lomba untuk mencapai target. Aku pun sadar apabila tidak melaju dengan cepat kita akan tertinggal. Namun bagaimana jika kita tidak siap untuk melaju dengan kecepatan maksimum? Apalagi ditambah suara-suara yang memecah konsentrasi. Kita menjadi panik dan akhirnya jatuh. Menyakitkan dan meninggalkan bekasnya.

Beberapa waktu lalu aku pernah membaca buku yang judulnya aku lupa. Buku itu menceritakan tentang kehidupan atlet dan artis yang kariernya terlalu cepat melonjak sehingga mengakibatkan mereka menjadi kaget. Mereka tidak sanggup untuk menghadapi perubahan-perubahan yang ada serta tuntutan yang menyertai. Akibatnya mereka terjebak dalam popularitas. Minuman keras, kehidupan seksual bebas yang tidak terkendalikan serta obat-obatan terlarang. Popularitas malah menghancurkan hidup mereka.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Pengkotbah 3:1

Aku tahu ambisi, cita-cita itu baik adanya namun semua itu ada waktunya. Mari kita menyerahkan segala sesuatu kepada Dia, Sang Penentu untuk menetapkan. Biarkan Dia mengambil alih hidup kita. Kita berjalan sesuai dengan tuntunan-Nya.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Yeremia 29:11 

Friday, June 22, 2012

Pekerjaan Tersulit : Membangun Jembatan Menuju Hatimu

Membaca judul di atas mungkin banyak yang terkecoh. Isinya apakah tentang pasangan/teman hidup? Tentu saja bukan. Pasangan/teman hidup bukanlah topik terhangat di sekelilingku saat ini.

Yuks kita mulai dengan pertanyaan: "Dua hal penting apakah yang ditekankan oleh Tuhan Yesus selama pelayanan-Nya?"

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Matius 5:43-44


Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Matius 22:37-40

"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." Lukas 6:27-38

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Lukas 10:25-28 

Mengasihi? Mudah ataukah sulit untuk dilakukan?

Jika seseorang melemparimu batu apakah yang akan kamu lakukan padanya? Melempari batu balik padanya? Dilempari batu itu sakit lho. Batu kecil saja sakit apalagi batu besar. Percayalah padaku rasanya sakit karena aku pernah dilempari batu. Benar-benar batu dalam arti sesungguhnya.

Beberapa waktu lalu aku pernah menyaksikan sebuah animasi seperti ini...

Ada seseorang, dia dilempari batu dari seberang. Batu yang dilemparkan bukan batu kecil melainkan batu-batu besar. Dia dilempari bukan hanya sebuah batu melainkan banyak batu. Jika kamu jadi orang itu, apakah yang akan kamu lakukan? Melemparkan kembali batu-batu tersebut pada pelempar atau...? Mari kita lihat respon orang yang dilempari batu tersebut... Oh ternyata dia menggunakan batu-batu yang dilemparkan kepadanya untuk membangun sebuah jembatan. Jembatan maaf menuju ke hati lawannya itu.

Aku tahu mengasihi itu sulit. Aku pun masih bergumul mengenai hal itu. Mungkin tidak banyak yang tahu namun aku termasuk orang yang menyimpan kepahitan dalam hati. Percayalah simpanan kepahitan yang banyak dalam hati itu pada akhirnya akan menjadi sampah busuk yang lama-kelamaan akan menggrogoti hati dan menghancurkan hidupmu. Kita yang merupakan seteru Tuhan, orang yang patut dimurkai, malah dikasihi dan Dia mau mati buat kita, apakah kita tidak bisa berbuat demikian kepada sesama? Ingat dosa-dosa kita jauh lebih besar dan menyakitkan Tuhan dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang lain kepada kita.

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! Roma 12:9-21  

Marilah kita belajar mengasihi dengan kasih Tuhan. 

Saturday, June 16, 2012

True Soulmate : Siapa Yang Akan Kamu Pilih?

Sudah dua hari ini adik berada di Jakarta. Selama di sini banyak hal yang kami percakapkan. Aku jadi menyadari bahwa secanggih apapun alat komunikasi yang ada tak satupun dapat menggantikan kehadiran seseorang secara langsung. Topik yang dibahas dalam percakapan salah satunya adalah mengenai dua orang teman kami yang belum lama ini menikah. Mempelai pria adalah teman adikku sementara yang wanita temanku. Dalam percakapan tersebut dibahas mengenai mempelai wanita yang berpindah kenyakinan mengikuti mempelai pria. Sungguh hal ini sangat mengecewakan kami. Selain itu juga dibahas mengenai pengakuan mempelai pria bahwa sesungguhnya soulmate dia adalah orang lain, bukan istrinya. Ironis bukan? Seseorang yang meninggalkan Tuhannya, ditinggalkan pula oleh orang yang telah membuatnya meninggalkan Tuhannya. Meninggalkan lalu ditinggalkan pula. Pada akhirnya dia tidak memiliki siapa-siapa.

Beberapa menit yang lalu aku menyaksikan sebuah cerita dalam bentuk flash yang judulnya Passion. Passion bercerita tentang seseorang yang mengungkap cintanya yang besar pada seorang wanita. Walaupun dia telah memohon dengan sangat namun si wanita tetap menolaknya. Tuhan Yesus sangat sedih mengapa si pria tidak mengungkapkan cinta kepada-Nya padahal Tuhan Yesus telah menyediakan hadiah yang begitu banyak buatnya.

Seperti dua kejadian di atas, kita seringkali memilih untuk mencintai hal-hal lain selain Tuhan. Kita memilih untuk mencintai diri kita sendiri dibandingkan Tuhan. Juga kita memilih untuk mencintai materi dibanding Tuhan. Padahal Tuhan sangat rindu supaya kita bisa mencintai-Nya. Juga supaya kita bisa merasakan dicintai oleh-Nya.

Aku tidak tahu dan juga tidak bisa mengukur seberapa besar cinta Tuhan Yesus tapi aku rasa pastilah cinta itu sangat besar sekali. Cinta yang tak terukur. Mengapa aku bisa berkata demikian? Karena sekalipun kita tidak mencintai-Nya, Dia tetap mencintai kita. Sekalipun kita sering mengecewakan-Nya namun Dia tetap mencintai dan tidak pernah sekalipun mengecewakan kita. Walaupun Dia kita tinggalkan akan tetapi Dia tidak pernah meninggalkan dan terus mencintai kita.

Godaan-godaan dunia aku tahu itu sangat besar dan daging kita itu lemah, namun aku pikir seharusnya kita bisa berpikir secara jernih jika diperhadapkan pada sebuah pilihan. Jikalau diminta untuk memilih, kamu akan memilih yang mana? Pikirkanlah

Monday, June 4, 2012

Kau Bertanya Padaku

Kau bertanya padaku
Pada siapakah kamu meminta saat kelaparan
Aku meminta pada Dia yang mempunyai roti dan air hidup
Aku tak akan pernah lagi mengalami kelaparan juga rasa haus

Kau bertanya padaku
Pada siapakah kamu berharap ketika menghadapi penderitaan
Aku berharap pada Dia yang menghapus airmataku
Menguatkan ketika aku lemah
Memikul penderitaanku
Aku pun dapat menjalani kehidupan dengan tegar

Kau bertanya padaku
Siapakah yang paling mencintaimu
Oh... Aku akan menjawab, "Dia"
Dia mencintaiku apa adanya
Dia yang tidak lagi mengingat-ingat pelanggaranku
Dia yang mati menanggung semua dosaku

Bertanya lagi kau padaku
Siapakah Dia itu?
Ow... kau ingin mengenal-Nya?
Kuberitahukan nama-Nya
Namanya Yesus
Nama termanis yang pernah disebut
Pribadi paling baik hati dan lemah lembut

Kau tertarik mengenal-Nya?
Oh... Dia memanggilmu
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Matius 11:28-30

Friday, May 18, 2012

Isu Medis yang Tampak Sederhana

Dunia medis merupakan dunia yang seru untuk diperbincangkan. Banyak sekali hal-hal yang bisa diangkat menjadi tema diskusi. Mengapa? Karena dunia ini banyak hal yang sulit dibedakan antara hitam dan putih. Saya teringat saat mengikuti mata kuliah etika kedokteran. Pada kuliah tersebut dosen yang juga seorang dokter mengatakan bahwa di dunia kedokteran ini banyak daerah abu-abu. Setiap tindakan yang diambil semuanya dibenarkan apabila dokter mempunyai alasan kuat untuk melakukannya dan sudah melindungi diri secara hukum.

Berbicara mengenai etika, hukum, dan lain sebagainya ketika masih dalam bangku kuliah yang masih nyaman, pemikiran-pemikiran kita masihlah masih idealis. Namun bagaimana ketika diperhadapkan pada suatu kondisi nyata di lapangan, apakah pemikiran kita masih sama?

Beberapa waktu belakangan ini aku banyak sekali terlibat dalam suatu perbincangan menarik termasuk cerita tentang seorang teman aktivis persekutuan kristen kampus yang telah berpraktik walaupun belum memiliki STR (Surat Tanda Registrasi). Pernah juga aku ditawari untuk jaga klinik oleh seorang teman yang mengaku seorang kristen padahal dia baru saja selesai koas dan belum memiliki STR. Dia sangat bangga dengan penghasilannya yang lebih dari lumayan. Juga aku pernah membaca status facebook seorang teman yang lagi-lagi mengaku sebagai seorang kristen, sama-sama pelayanan kesehatan di sebuah daerah, yang isinya mengajukan diri untuk dikontak apabila ada yang perlu dokter jaga padahal baru saja kemarin dia selesai UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Jelas-jelas dia belum punya STR.

Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain." Roma 2:17-24

Mengenai praktik tanpa STR memang bukanlah masalah besar (asal jangan sampai ketahuan saja) sehingga cenderung untuk diabaikan. Aku sangat sedih melihat teman-teman yang mengaku kristen dan pelayanan tapi hidup seperti tidak mengenal Tuhan. Sadarkah praktik tanpa STR itu tidak benar? Orang yang tidak kenal Kristus saja tahu bahwa itu tidak benar tapi malah orang kristen justru mengabaikannya (pendapat hasil pembicaraan dengan teman-teman yang tidak mengenal Tuhan). Kita tidak takut Tuhan dan tidak takut hukum. Jangan sampai kita jadi batu sandungan bagi orang lain. Jangan sampai karena kita nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa

Temans... Mari kita introspeksi diri kita secara jujur di hadapan Allah

Wednesday, May 9, 2012

Dibutuhkan: Kasih Karunia

Kasihku : Kasih yang Terbatas

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap Senin aku akan pergi makan bersama seseorang yang sangat dekat denganku. Hari itu kami boleh makan sepuasnya setelah melewati enam hari lamanya menahan diri untuk berhemat. Demikianlah dua hari yang lalu kami pergi makan bersama setelah dia selesai klinik. Biasanya saat makan kami memperbincangkan banyak hal. Pada kesempatan kali ini dia mengatakan padaku bahwa dia telah memberitahukan mengenai apa yang kurasakan pada orang yang tidak aku sukai oh tidak lebih tepatnya orang yang aku benci. Aku membenci orang itu sudah cukup lama. Sudah berbulan-bulan lamanya kebencian itu tetap bertahan di hatiku dan tak mudah untuk hilang. Alasanku sebenarnya membenci orang itu karena aku menganggap dia tidak cukup peduli padaku. Aku sangat berharap dia mengasihiku tanpa batas namun kenyataannya... Uh... Aku sendiri pun tidak tahu... Kadang aku bertanya pada diriku sendiri “Aku mengharapkan dia mengasihiku tanpa batas. Apakah aku juga mengasihinya tanpa batas?” Jawabannya sangat jelas sekali. “Aku pun tidak mengasihinya tanpa batas.”

Berbicara mengenai “Kasih” membuatku teringat akan suatu peristiwa yang baru saja terjadi empat hari yang lalu. Saat itu aku bersama dengan seorang teman sedang survei harga pakaian di Tanah Abang. Ketika teman tersebut sedang sibuk memilih-milih barang yang akan dibelinya, aku dihampiri oleh seorang wanita usia sekitar pertengahan empat puluh. Wanita tersebut mengharapkan kemurahan hatiku dengan memberikannya sedikit dari uang yang aku punyai untuk biaya urut anaknya. Aku bingung harus bagaimana. Sebenarnya aku lumayan pelit memberi pada peminta-peminta karena mempunyai anggapan bahwa orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang malas bekerja. Di lain pihak sebenarnya aku ingin memberi namun kondisi keuanganku tidak memungkinkan karena aku harus berhemat hingga kiriman uang bulananku datang. Akhirnya aku menolak memberi. Sebelum pergi wanita itu memandangku dengan tatapan memelas lalu mengatakan, “Tuhan memberkatimu.” Wuih... Betapa aku terpana mendengar kalimat tersebut.

Memang kuakui betapa kasihku ini terbatas sekali...

Kasih Karunia : Kasih Tanpa Batas

Salah satu tokoh yang kukagumi adalah Rasul Paulus. Sudah lama aku mengagumi dirinya dan sudah lama sekali aku ingin membeli buku mengenai dirinya; Seri Tokoh Terbesar : Paulus, Seorang yang penuh kasih karunia dan tegar; profil karakter dari Charles R. Swindoll. Pada suatu kesempatan akhirnya dapat pula aku membeli buku tersebut.  Mengapa aku mengagumi Rasul Paulus? Karena dia adalah orang selain dari Kristus sendiri memberikan pengaruh yang begitu mendalam terhadap dunia pada zamannya dan juga pada zaman kita melalui tulisan-tulisannya.

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan secara cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Roma 3: 23-24

Paulus, penganiaya dan pembunuh orang-orang kudus Tuhan, mengerti dan menjelaskan kasih karunia lebih baik daripada orang-orang sezamannya. Mengapa? Karena dia tidak pernah berhenti bersyukur sebagai penerima kasih karunia itu. Kasih karunia Tuhan yang berlimpah-limpah mengubah agresor yang kejam ini menjadi seorang juru bicara Kristus yang rendah hati tetapi memiliki kuasa. Seseorang dengan ketegaran seperti itu sangat membutuhkan kasih karunia yang besar.

Melalui kehidupan Paulus, aku belajar banyak hal salah satunya adalah belajar menghargai kasih karunia. Jika menengok kembali ke kehidupanku yang dulu, betapa berlimpah-limpahnya kasih karunia yang aku terima. Betapa luar biasa Tuhan dalam kehidupanku. Aku yang terlahir dari keluarga bukan kristen, yang bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa bisa dipilihNya. Bukannya mengecilkan maupun menghina kepercayaan-kepercayaan lain, namun tanpa kasih karunia kita tidak bisa selamat. Keselamatan itu bukan hasil usaha melalui perbuatan baik kita. Jika mau jujur bisakah kita berbuat baik terus-menerus? Seperti peristiwa yang telah aku ceritakan di atas tadi, aku secara pribadi mengatakan bahwa aku tidak mampu. Hatiku ini hitam dan busuk seperti sampah. Memikirkan dan melakukan perbuatan baik mungkin sangat jarang sekali.

Setiap tokoh-tokoh terkemuka agama berbicara dan mengajarkan tentang kasih, perbuatan baik, jalan menuju ke surga, namun hanya ada satu tokoh yang pada dirinya sendiri terdapat semuanya itu yakni Kristus, Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku... “ Yohanes 14: 6. Hanya kasih karunia melalui Yesus Kristus yang mampu menembus semua batasan yang ada. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Yesaya 53:4-7. 

Tidak ada seorang pun yang bertemu Yesus yang hidupnya tidak berubah.

Kasih Karunia Dalam Penderitaan

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa hal yang paling tidak kusukai pada diriku adalah tidak tahan menderita, suka mengeluh, dan mudah sekali jatuh dalam fase mengasihani diri sendiri. Aku ingat sekali perkataan seorang teman saat aku bercerita mengenai peristiwa tidak mengenakkan yang kualami. Teman itu mengatakan bahwa Tuhan mengizinkan peristiwa tidak mengenakkan terjadi supaya kelak aku dapat memberkati orang-orang yang mengalami hal sama. Penderitaan membawa berkat? Bagaimana mungkin hal itu terjadi?

Aku mengenal seseorang yang kehidupannya sangat memberkatiku melalui tulisan-tulisan yang ditulis di blognya. Dia terkena tumor ovarium sehingga kedua ovariumnya diangkat sehingga menyebabkan dia tidak bisa mempunyai anak. Pada saat sakit inilah dia mengenal Tuhan. Karena itulah tulisan-tulisannya banyak membahas mengenai christianity, parenting, relationship, dan diseases.

Salah satu pelayanan yang kulakukan walaupun tidak rutin adalah TMTN. Di sana ada dua orang wanita lanjut usia (lansia) yang secara rutin dilayani melalui kunjungan rumah. Kedua wanita lansia menderita stroke. Ketika melakukan kunjungan rumah tidak tahu mengapa aku bisa dengan mudah bersimpati pada mereka padahal aku bukanlah orang yang mudah simpati dengan penderitaan orang lain. Oh ternyata karena kami mengalami latar belakang yang sama. Kalau keduanya menderita stroke, aku memang tidak menderita stroke, melainkan ayahkulah yang stroke.

Terkadang Tuhan memakai penderitaan untuk mengajarkan kepada kita mengenai pengharapan dan kasih. Pengharapan dan kasih yang hanya didapatkan di dalam dan melalui Dia.

Hidup (Melayani) Oleh Kasih Karunia

Salah satu profesi, tanpa mengecilkan profesi lain, yang selalu berhubungan dengan penderitaan adalah dokter. Setiap kali dokter harus berhadapan dengan kesakitan, kemiskinan (pasien yang tidak mampu membayar biaya pengobatan) juga bahkan kematian. Coba bayangkan jika seorang dokter mirip dengan penjagal hewan yang seperti dalam bayanganku. Mau beli sapi berapa kilo? Mau daging sebelah mana? Has, lidah atau buntutnya atau mungkin mau rusuknya? Yang setelah pembeli menyebutkan bagian yang diinginkannya langsung main potong saja. Hih... Betapa mengerikannya. Atau mungkin mirip seperti robot yang saat ini teknologinya sedang dikembangkan? Yang cuma bisa menerima perintah tanpa pernah benar-benar bisa memahami. Wuih...

Aku pernah membawa ayah berobat ke salah seorang dokter spesialis mata di sebuah center mata terkemuka di Jakarta. Tanpa banyak bertanya dokter tersebut langsung memeriksa dan menyarankan untuk operasi tanpa adanya penjelasan sama sekali ketika ditanya. Sangat menjengkelkan sekali.

Dokter yang berbuat baik. Seperti apakah dokter dengan perbuatan baik yang diharapkan? Perbuatan baik ini pernah diangkat sebagai bahan diskusi oleh seorang teman pada saat KTB. Apakah perbedaan perbuatan baik yang dilakukan oleh orang kristen dibandingkan perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang non kristen? Bukankah sama-sama melakukan perbuatan baik? Keistimewaan perbuatan baik orang kristen apa?

Mengenai hal ini dijelaskan secara lengkap oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bisa baca sendiri biar lebih jelas). Secara garis besar Kitab Roma dibuka dengan salam, keinginan Palus ke Roma, hukuman Allah, dosa, pembenaran oleh iman, dan hidup oleh Roh. Kita tidak sedang eksposisi kitab Roma saat ini. Yang ingin kutekankan bahwa manusia itu hidup dalam dosa:
Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “ Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.'' Roma 3:9-18

Kemudian diselamatkan oleh iman kepada Yesus Kristus secara cuma-cuma
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan secara cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Roma 3: 23-24

Lalu hidup dalam Roh, termasuk salah satunya yakni hidup (melayani) dalam kasih karunia
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Roma 12:9-18

Jadi apa perbedaan perbuatan baik kita dengan orang-orang lain:
Kita menerima kasih karunia dan hidup melayani dengan berbuat baik oleh kasih karunia