Welcome...

Selamat datang di blog saya. Senang sekali ada yang mau berkunjung. Mencoba menjadi penulis yang baik. Menuliskan topik yang terjadi di sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi, lumayan panjang (walaupun capek mikir dan ngetik wakakaka...), inspiratif, informatif, dan tidak membosankan pembaca (karena saya males baca sebenarnya)... Semoga blog ini bermanfaat buat semua yang mampir. Terima kasih... :)

Saturday, May 18, 2013

Sebuah Janji

Aku duduk diam di depan komputer sementara lagu-lagu rohani mengalun lembut dari speaker komputer teman seruangan. Banyak hal yang berseliweran di dalam pikiranku. Betapa ingin aku bercerita pada seseorang yang dapat dipercaya mengenai hari-hari yang kulalui, tentang suka tentang duka hidupku, tapi semua itu pada akhirnya hanya mengendap di dalam hati. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat pada ayat dari saat teduh kemarin,

I will give you every place where you set your foot, as I promised Moses. Your territory will extend from the desert to Lebanon, and from the great river, the Euphrates—all the Hittite country—to the Mediterranean Sea in the west. No one will be able to stand against you all the days of your life. As I was with Moses, so I will be with you; I will never leave you nor forsake you. Be strong and courageous, because you will lead these people to inherit the land I swore to their ancestors to give them - Joshua 1:3-6 NIV

Ayat ini sebelumnya pernah menjadi ayat penguatan ketika aku berada dalam kesulitan. Sebuah janji yang luar biasa. Bukan hanya kepada Joshua namun juga kepadaku, "Setiap tanah yang diinjak kakiku akan menjadi milikku." Kembali pula aku dikuatkan melalui pujian

JANJI-MU SEPERTI FAJAR

KETIKA KUHADAPI KEHIDUPAN INI
JALAN MANA YANG HARUS KUPILIH
KU TAHU KU TAK MAMPU
KU TAHU KU TAK SANGGUP
HANYA KAU TUHAN TEMPAT JAWABANKU


AKU PUN TAHU KU TAK PERNAH SENDIRI
S'BAB KAU ALLAH YANG MENGGENDONGKU
TANGAN-MU MEMBELAIKU
CINTA-MU MEMUASKANKU
KAU MENGANGKATKU KE TEMPAT YANG TINGGI


REFF:
JANJI-MU SEPERTI FAJAR PAGI HARI
DAN TIADA PERNAH TERLAMBAT BERSINAR
CINTA-MU SEPERTI SUNGAI YANG MENGALIR
DAN KU TAHU BETAPA DALAM KASIH-MU


Pujian ini bukan hanya sekali saja diputarkan akan tetapi saat aku sedang duduk menuliskan blog ini pujian ini kembali mengalun. Tuhan sekali lagi meneguhkan dan menguatkanku. Sebuah janji... Sebuah janji yang memantapkanku menapak hari-hari esok, masa depan yang tidak menentu... Sebuah janji Tuhan...


Thursday, April 18, 2013

Think Big - God Can Do Anything In You

Hi... Long time no see. How long I haven't writen blog? Almost 2 months. Hehehe... I am very busy lately because I must move from Jakarta to Samarinda. It is a big decision that I've made but I never regret because I know God lead wherever I go.

In Samarinda, I met many people and some of them influence me to be a great doctor. Before move to Samarinda, accidentally I watched "Gifted Hands", story about Ben Carson pediatric neurosurgeon. That movie give insight to me. He is inspiring person. You can search that movie in Youtube. After watched Gifted Hands, I search Ben Carson's biography and then I found his book "Think Big". This is the summary...

Talent : Our Creator has andowed all of us not just with the ability to sing, dance or throw a ball, but with intellectual talent. Start getting in touch with that part of you that is intellectual and develop that, and think of careers that will allow you to use that.

Honesty : If you lead a clean and honest life, you don't put skeletons in the closet. If you put skeletons in the closet, they definitely will come back just when you don't want to see them and ruin your life.

Insight : It comes from people who have already gone where you're trying to go. Learn from their triumphs and their mistakes.

Nice : If you're nice to people, then once they get over the suspicion of why you're being nice, they will be nice to you.

Knowledge : It makes you into a more valuable person. The more knowledge you have, the more people need you. It's an interesting phenomenon, but when people need you, they pay you, so you'll be okay in life.

Books : They are the mechanism for obtaining knowledge, as opposed to television.

In-Deepth Learning : Learn for the sake of knowledge and understanding, rather than for the sake of impressing people or taking a test.

God : Never get too big for Him

I hope this book will inspire every people who read it

Friday, February 22, 2013

Nostalgia Kota Jakarta

Setiap ada pertemuan, pastilah ada perpisahan. Tak terasa hampir 8 tahun aku menjadi penduduk setia kota Jakarta. Banyak kenangan yang tidak terlupakan akan kota ini. Selain kota kelahiranku Parepare, ini kota kedua yang aku tinggali lama. Pernah terlintas dalam benakku bahwa aku akan tinggal lebih lama di sini namun kenyataannya tidak seperti itu. Tidak pernah terbayangkan bahwa aku akan kembali lagi ke WITA meninggalkan WIB.

Menjelang detik-detik perpisahan, aku kembali menyusuri tempat-tempat yang pernah kulewati, menikmati suasana serta makanan yang mungkin lama akan kunikmati lagi. Hangout dengan beberapa orang teman yang akan kurindukan. Hahaha... Kok jadi melankolis begini yah...

Nostalgia Kota Jakarta, kapan-kapan kita akan bertemu lagi jika memang Tuhan menjodohkanku denganmu.

Sebagai penutup aku mau kasih lagu...

Leaving On A Jet Plane


I'm ... I'm ...

All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye

But the dawn is breakin', it's early morn
The taxi's waitin', he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go

'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go

I'm ...

There's so many times I've let you down
So many times I've played around
I'll tell you now, they don't mean a thing

Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring

So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go

'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go

Now the time has come to leave you
One more time, oh, let me kiss you
And close your eyes and I'll be on my way

Dream about the days to come
When I won't have to leave alone
About the times that I won't have to say ...

Oh, kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go

'Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go

And I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go

But I'm leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
(Leaving) On a jet plane

Friday, February 1, 2013

A Woman After God's Own Heart

Sudah berapa lama aku menjadi Kristen? Seorang Kristen yang sungguh-sungguh bukan seorang kristen yang suam-suam kuku. Seorang kristen yang memuliakan Tuhan bukan seorang Kristen yang jatuh bangun dalam dosa.

Sudahkah aku menjadi seseorang yang jujur? Jujur pada Tuhan. Jujur pada diri sendiri. Juga jujur pada orang lain.

Sudahkah aku menjadi seseorang yang penuh kasih? Mengasihi Tuhan dan sesama dengan kepenuhan bukan hanya mengasihi diri sendiri.

Sudahkah aku dengan rajin membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan? Tekun dan rajin bukan bermalas-malasan.

Tuhan...

Aku ingin menjadi wanita yang berkenan di hati-Mu. Wanita yang sungguh-sungguh hidup, mendapatkan kepenuhan, sukacita, dan cinta hanya di dalam-Mu.

Tuhan...

Aku meninggalkan semua masa lalu, semua kepahitan, semua kegagalan, semua duka, semua luka di belakang. Aku ingin berlari bersama-Mu ke depan. Aku ingin menjadi petinju yang tidak sembarangan memukul.

Tuhan...

Ini kepingan hatiku yang retak. Ini hidupku yang hancur lebur. Ini diriku yang tidak layak. Aku bawa semuanya kepada-Mu. Jadilah sumber mata air yang memberi hidup dalamku. Jadilah roti yang mengenyangkan jiwaku. Aku ingin menangis dan tertawa bersama-Mu.

Sehingga mimpiku untuk bisa bersama-sama dengan-Mu di rumah Bapa menjadi nyata.

Dear Iis, Pasien Perdarahan Postpartum

Beberapa hari lalu seorang teman mengirimkan whatsapp tentang permintaan donor golongan darah A, dan kebetulan golongan darahku A. Langsung saja aku telpon teman tersebut. Setelah serangkaian telpon-menelpon dengan orang-orang yang berbeda akhirnya sampailah aku ke PMI Kramat. Sebenarnya sih saat itu aku kurang yakin bisa menjadi donor karena sudah 8 tahun berturut-turut ditolak karena Hb (hemoglobin) dan tekanan darah rendah (Hb < 10 g/dl, tekanan darah bahkan pernah cuma 90/60 mmHg). Pikirku saat itu sudah pasti ditolak nih karena kondisi saat itu memang tidak fit tapi dasar memang aku orangnya kadang rada nekat (oke lha aku ngaku memang nekat) jadilah aku mencoba saja. Siapa tahu... Yah siapa tahu bisa diterima jadi donor. Kan lumayan demi menyelamatkan nyawa orang (duile bahasanya). Alhasil selama di PMI aku malah jadi deg-degan sendiri menunggu pengukuran Hb dan tekanan darah.

Jreng... Jreng... Jreng... Ternyata Hb-ku 13,4 g/dl yang berarti lolos uji emisi. Hahaha... Sekarang malah tambah deg-degan lagi nunggu dipanggil untuk ukur tekanan darah. Satu sudah lolos, satunya lagi gimana yah lolos ga ya? Hmm... Untuk menghilangkan rasa deg-degan tersebut aku iseng-iseng baca kertas yang ada di tanganku. Kertas tersebut berisi informasi mengenai data pribadi (biasa nama, dll), golongan darah, Hb, dll. Hmm... Dan juga nama resepien (penerima darah). Di sana tertulis Iis. Ada yang tahu siapa Iis? Aku? Aku pun tidak kenal siapa Iis ini (tinggal di mana, umur berapa, anaknya berapa, dll). Aku cuma tahu Iis ini pasien perdarahan postpartum dengan Hb 1 g/dl yang butuh darah golongan A.

Tak lama kemudian namaku dipanggil masuk untuk mengukur tekanan darah. Wuih... Apa yang terjadi? Benar sekali. Setelah 8 tahun ditolak akhirnya aku bisa jadi donor dengan tekanan darah 110/80 mmHg. Hahahaha... Aku disuruh masuk ke ruangan untuk diambil darah. Jarumnya besar bo...

Keesokan harinya atau beberapa hari kemudian yah aku lupa, teman yang mencari donor untuk pasiennya itu sms aku. Isi smsnya ucapan terima kasih sekaligus ucapan syukur karena pasiennya selamat.

Dear Iis, pasien perdarahan postpartum
Walaupun memang tidak mengenal siapa engkau namun aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah singgah dalam hidupku meskipun itu hanya namamu saja. Sesungguhnya aku malu padamu. Malu bahwa engkau dengan hemoglobin 1 g/dl saja mampu berjuang untuk tetap hidup sementara aku sendiri masih berkubang dalam luka. Terima kasih karena membuatku kembali percaya akan adanya mujizat. Mengingatkanku bahwa Allahku adalah Allah yang setia. Allahku adalah Allah yang tidak pernah berhutang. Setelah 8 tahun ditolak akhirnya aku bisa menjadi donor. Seperti Abraham yang menanti sampai usia 100 tahun barulah memperoleh anak yang dijanjikan, aku juga ingin setia menantikan pemenuhan janji Allah dalam hidupku.

Soli Deo Gloria


Tuesday, January 22, 2013

Di Balik Masa Depan Suram Selalu Ada Pengharapan

Hahaha... Izinkan aku tertawa lebih dulu...

Judul post kali ini berhubungan erat dengan pembicaraan whatsapp dengan seorang teman beberapa jam lalu. Awalnya sih aku ngucapin selamat natal dan tahun baru buat seorang teman yang dulu satu kelompok di stase bedah (ga usah disebut namanya karena mungkin yang baca pun tidak kenal). Setelah sebulan lebih baru dia balas. Alasannya sih karena baru aktifin/ol di whatsapp lagi. Dari sana pembicaraan beralih arah menjadi ngalor-ngidul ga jelas. Hahaha... Lalu aku main langsung tembak saja nanya soal lowongan kerja. Terus terang saat ini aku bergumul soal masalah kerjaan (bukan bergumul soal pasangan hidup lho yah. hahahaha...) karena setelah di beberapa tempat kerja aku merasa kecewa. Tempat kerja pertama aku merasa dimanfaatkan dengan menjual gelar "dokter" yang aku miliki. Tempat kerja kedua aku bekerja tapi sudah dua kali belum dibayar. Akhirnya aku memutuskan keluar dari kedua tempat tersebut. Jujur aku kecewa sekali dengan kondisi ini lebih tepatnya kondisi yang aku alami sekarang ini. Hahaha... Nah dari pembicaraan ini berlanjutlah pada pembicaraan mengenai banyak hal sehingga dia memunculkan istilah "masa depan suram".

Pernahkah mengalami kekecewaan? Pernahkah merasa hidup dengan sia-sia? Pernahkah merasa diri tidak berguna? Pernahkah merasa ingin mati saja? Secara jujur aku katakan, "Aku pernah. Aku pernah berpikir ekstrim ingin bunuh diri. Aku pernah berpikir ekstrim mau menjual kehormatan demi mendapatkan materi dengan cepat. Aku pernah berpikir menjual integritas. Bahkan pernah berpikir mau menjual jiwaku pada setan karena menurutku Tuhan itu tidak ada, Tuhan itu sumber malapetaka. Apa saja mau kukorbankan demi sesuap nasi." Jika kalian pernah mengenalku mungkin akan kaget bahwa orang seperti aku yang kelihatannya kuat, secara kerohanian baik berpikir seperti itu. Tapi begitulah kenyataan hidup. Aku mengalami berbagai macam pengalaman. Bertemu dengan orang-orang yang menurutku munafik. Kelihatannya saja baik, ngakunya orang beragama, ngakunya cinta Tuhan tapi ternyata itu hanya tameng untuk mengejar kekuasaan, mengejar materi. Hahaha... Jadi di mataku terjadi generalisasi suatu pernyataan bahwa "Semua manusia itu jahat."

Pernah dengar istilah "Homo homini lupus" atau "manusia adalah serigala bagi sesamanya"? Begitulah manusia. Manusia seperti serigala yang memakan sesamanya sendiri. Manusia yang memanfaatkan sesamanya demi keuntungan pribadi. Manusia yang setelah memanfaatkan akan membuang sesamanya. Ketika sedang butuh kau akan dicari. Jika sudah tidak butuh kau akan dibuang (tentu saja setelah dikunyah-kunyah hingga habis dulu sebelumnya).

Halah... Kok malah tiba-tiba jadi curcol gini yah... Hahaha... Di tengah-tengah permasalahan hidup yang ada. Di tengah-tengah kepahitan hidup yang disimpan di dalam hati. Yang membuat aku tetap bertahan. Yang membuat aku tetap kuat. Adalah kenyataan bahwa Allah itu berdaulat atas hidup. Bahwa Dia mengasihi kita manusia yang hina, tidak layak dikasihi, tidak berguna, yang sering mengecewakan, yang menurutku lebih cepat dimusnahkan lebih baik.

Aku teringat akan ayat ini...

Karena masa depan itu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang. Amsal 23:18

Jadi... Ketika kekecewaan, kepahitan hidup, kesulitan hidup atau apapun namanya melanda ingatlah akan ayat tersebut...

Allah kita sungguh berdaulat atas hidup karena itu masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.

Aku mengakhiri tulisan ini dengan kalimat yang kukutip dari sebuah website, "Berperanglah bersama Tuhan. Kamu seorang prajurit bukan pecundang."

Soli Deo Gloria

Monday, January 14, 2013

Pantaskah Debu Marah Pada Tuan Yang Memberinya Nafas Kehidupan?

Seorang teman pernah bertanya padaku, "Apakah kamu marah pada Tuhan karena kesulitan yang kamu alami sekarang ini?"

Pantaskah sebuah kursi marah pada tukang kayu yang membuatnya?
Pantaskah sebuah tanah liat marah pada pengrajin yang membakarnya?
Pantaskah sebuah debu yang tidak berarti marah pada tuan yang memberinya nafas kehidupan?

Kursi tidak berhak marah pada tukang kayu yang membuatnya. Kayu yang tadinya tidak berguna di hutan telah ditebang dan dijadikan sebuah kursi yang berguna.

Tanah liat tidak berhak marah pada pengrajin yang membakarnya. Tanah liat yang tak berarti apa-apa telah dibakar untuk menjadikannya kuat, terukir indah dan berguna.

Debu yang tak berarti tidak pantas marah pada tuan yang memberinya nafas kehidupan. Debu yang tak berguna tertiup angin terbang entah ke mana, diinjak-injak tak berharga.

Manusia yang terbuat dari debu tanah yang hina, tak berguna, pantaskah marah pada Tuhan yang memberinya hidup, menjadikannya berharga lebih dari emas dan perak, dikasihi luar biasa?

Lalu aku menjawab, "Pantaskah aku marah? Kupikir tidak."

Bagaimana denganmu?