Welcome...

Selamat datang di blog saya. Senang sekali ada yang mau berkunjung. Mencoba menjadi penulis yang baik. Menuliskan topik yang terjadi di sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi, lumayan panjang (walaupun capek mikir dan ngetik wakakaka...), inspiratif, informatif, dan tidak membosankan pembaca (karena saya males baca sebenarnya)... Semoga blog ini bermanfaat buat semua yang mampir. Terima kasih... :)

Thursday, December 22, 2011

Dicari : Dokter Yang Bisa Menyembuhkan Segala Macam Penyakit

Beberapa waktu yang lalu aku bersama dua orang teman pergi makan makanan Korea di daerah Bintaro. Seperti biasanya para cewek kalau berkumpul sukanya ngerumpi. Dan biasanya kalau mahasiswa-mahasiswa ngerumpi pasti isi rumpian seputar teman-teman atau yups... ! Dosen tentunya. Hari itu teman tersebut bercerita tentang seorang dosen (yang notabene adalah seorang dokter juga, maklum kami adalah anak-anak kedokteran). Ceritanya dokter tersebut sangat suka bercerita tentang betapa hebat kemampuannya dalam mengobati pasien. Teman ini saat mendengar tentang kehebatan dokter ini, tentu saja menjadi tertarik. Dia kemudian merekomendasikan dokter ini ke om-nya yang sedang sakit. Akhirnya om teman ini berobatlah ke dokter ini. Dokter ini menyarankan kepada om teman ini untuk menghentikan pengobatan yang diberikan oleh dokter yang menangani sebelumnya. Singkat cerita, setelah berobat, om teman ini bukannya sembuh malah penyakitnya semakin parah.

Temans... Pernahkah kalian sakit? Tentu saja pernah bukan. Saat sakit, tentunya kalian akan berobat ke dokter. Apa yang diharapkan dari dokter yang menangani kalian itu ? Pastinya semua pasien yang datang berobat ke dokter menginginkan kesembuhan. Istilahnya hasil dengan biaya yang dikeluarkan harus seimbang. Maklumlah mengingat biaya berobat sekarang ini sangat mahal. Cerita di atas mungkin sering kalian dengar bukan? Dokter yang kelihatannya hebat namun kemampuan mengobatinya NOL...

Temans... Pernahkah kalian berpikir atau bertanya kepada diri kalian sendiri. "Apakah dokter itu bisa menyembuhkan segala macam penyakit?" Atau bepikir seperti ini, "Apakah dokter itu sama seperti Tuhan yang mampu mengobati segala macam penyakit?"

Bukan karena aku anak kedokteran atau doctor sehingga bisa berbicara seperti ini. Mungkin kalian pernah mendengar pernyataan seperti ini, "Halah... Dokter mah di mana-mana sama saja. Walaupun sudah ketahuan malpraktek pasti deh akan dibela oleh rekan sejawatnya. Maklumlah mereka tu semuanya satu komplotan." Satu komplotan apa? Sindikat Dokter Indonesia? Sindikat itu mafia kali... Hehehe...

Pernahkah kalian orang yang bukan berkecimpung dalam dunia medis berpikir mengenai kami, para budak-budak manusia alias para dokter? Pernahkah kalian berpikir mengenai masalah yang kami hadapi? Mulai betapa susahnya saat mau masuk fakultas kedokteran? Ujian masuk yang sulit. Saat sudah masuk kuliah, berapa banyak hal yang harus kami pelajari? Tahukah kamu semua bahwa kami juga belajar statistik? Kami belajar communication skill. Kami belajar mengenai Etika Kedokteran. Kami belajar mengenai Hukum juga. Belajar bagaimana membuat program kesehatan, dll. Kami belajar itu semua bukan hanya belajar mengenai anatomi tubuh manusia, biologi, histologi, fisiologi, dll. Apakah kalian juga pernah berpikir betapa sedikitnya jam tidur kami? Ketika orang-orang terlelap dalam mimpi yang indah, kami harus bangun untuk menghafalkan pelajaran. Saat orang-orang memeluk guling yang empuk dan tidur di ranjang dengan nyaman, kami harus jaga malam. Kami harus berurusan dengan pihak kepolisian yang meminta visum. Kami harus membuat visum et repertum yang ajubile bikin sakit kepala karena laporannya harus detail (kantong baju ukurannya berapa kali berapa, letaknya di sebelah mana, isi kantong tersebut apakah ada/tidak, kalau ada isinya apa? dll). Setiap kali kami melakukan kesalahan pasti akan menjadi sorotan media. Menghadapi tuntutan hukum. Menerima cercaan sana sini. Banyak dokter-dokter yang hidup berintegritas dan memegang teguh sumpah mereka, namun pernahkah mereka meminta penghargaan/mendapat sorotan media? Tidak teman-teman... Taukah kalian kalau kami pun bisa sedih. Kami juga bisa marah. Kamu juga bisa kecewa. Bisa stress... Kenapa tidak? Karena kami setiap harinya bergelut dengan hidup mati seseorang.

"Tapi kan jadi dokter banyak duit. Liat saja dokter tarifnya mahal." Hal itu yang selalu menjadi excuse orang-orang... Pernahkah berpikir demikian. "Apakah nilai uang tersebut sebanding dengan pertanggungjawaban kami para dokter di hadapan Sang pencipta?"

Temans... Ingatlah ini... DOKTER JUGA MANUSIA... Dokter bisa saja salah. Dokter bukan Tuhan dan tidak akan pernah menjadi Tuhan.

Tidak ada manusia yang sempurna temans... Begitu juga halnya dengan kami...

Sunday, December 18, 2011

Gadis Penjual Jajanan Pasar


Tidak tahu ini suatu kebiasaan yang baik atau buruk, namun aku sering melakukannya. Saat berkendara, aku sering sekali memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dari balik jendela mobil. Di daerah Pasar Kramat Jati tepatnya di depan Plaza Kramat Jati Indah, ada seorang gadis penjual jajanan pasar yang menarik perhatianku setiap kali lewat di sana. Menarik dalam artian ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda, berbeda bukan secara fisik. Secara fisik, menurut pandanganku dia tidak cantik. 

Pertama kali melihatnya mungkin setahun yang lalu. Saat itu dia sedang membantu seorang wanita usia paruh baya berjualan. Tebakanku mungkin itu ibunya atau tantenya? Aku tidak tahu. Awal pertama itu aku melihat penampilannya biasa-biasa saja. Pakaiannya kaos dan celana panjang jins. Lama-kelamaan mungkin sekitar seminggu kemudian, penampilannya berubah. Dia memakai pakaian yang cukup ketat hingga menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya dan ya dia juga dandan. Dandanan yang menurut pandangan mata dan pemikiranku yang kolot ini berlebihan. Riasan wajah menor dengan lapisan bedak yang cukup tebal, warna yang ditambahkan pada pipinya sangat merah dan bibir yang terpoles lipstik merah menyala. 

Beberapa hari berlalu, penampilan gadis itu masih juga seperti itu. Dan ya seperti tebakanku, penampilan itu menarik perhatian beberapa orang pemuda. Pemuda-pemuda mampir untuk membeli kue-kue sekaligus menggodanya. Mereka bercanda. Gadis itu tertawa genit. Begitulah waktu berlalu tidak terasa hingga suatu hari aku melihat perubahan drastis pada penampilan gadis itu. Cukup mengejutkan. Dia memakai jilbab dan pakaiannya tertutup. Walaupun aku bukan seorang muslim, namun aku suka sekali melihat seorang muslim mengenakan jilbab. Muslimah berjilbab itu kelihatan cantik, anggun, sopan, dan terpelajar. Namun sayangnya gadis itu tidak tampak seperti itu. Dia sepertinya kehilangan sesuatu di dalam dirinya. Tubuhnya seolah-olah tanpa jiwa. Tidak ada binar kehidupan yang terpancar dari matanya. Tidak ada senyuman di bibirnya. Pembeli pun nyaris tidak ada. Tidak seperti sebelumnya yang lumayan banyak ketika penampilannya seronok. Ya begitulah manusia yang tertarik dengan apa yang memuaskan mata dan keinginan daging.

Pernah terlintas dalam benakku. Kehidupan seperti apa yang dijalani gadis itu? Apa yang telah terjadi padanya sehingga dia seolah-olah kehilangan kehidupan? Bukankah mengenakan jilbab itu harusnya memancarkan suatu aura murni dan suci? Tapi gadis itu... ? Mungkinkah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Oh... Imajinasiku terlalu hidup dan melayang-layang...

Cermin-Cermin Di Rumahku Berkata Apa Tentang Diriku?
Saat pulang ke rumah hari ini aku memikirkan gadis itu. Ada suatu pemikiran yang terlintas di kepalaku. Belakangan ini aku ketika melihat pantulan gambar diri sendiri di cermin, aku melihat sudah tidak ada lagi binar-binar kehidupan di sana. Usiaku sudah seperempat abad tahun ini namun rasanya aku merasa usiaku lebih tua dari nenek sendiri yang sudah 70 tahun lebih. Ke mana keceriaan dan kegembiraan masa muda itu hilang? Aku tidak tahu jawabnya. Di persimpangan jalan kehidupan saat harus memilih dan memutuskan langkah yang harus diambil selalu ada kebimbangan. Bagaimanapun juga keputusan harus diambil sekalipun itu sulit untuk dilakukan. Ada kekecewaan dan kepahitan. Itu suatu hal yang pasti.

Tuhankah Satu-Satunya Pilihan Terakhir?
Saat melihat gadis itu berjilbab. Aku terpikir mungkin dia mengalami suatu kehidupan yang sulit sehingga membuat dia memakai jilbab. Aku berpikir ada sesuatu yang terjadi sehingga dia insaf sehingga akhirnya memutuskan mengenakan jilbab.

Jika melihat hidupku, aku bisa mengatakan bahwa aku bukanlah orang yang hidup benar dan suci. Aku manusia berdosa yang hina. Aku selalu berpikir sungguh amat kasihan Tuhan selalu menjadi pilihan terakhir ketika manusia sudah tidak menemukan jalan keluar lagi dari segala macam permasalahan dalam hidup. Sungguh kasihan dan piciknya kita sebagai manusia. Kita selalu beranggapan Tuhan itu adalah "Problem Solver" kita. Ketika kita merasakan kesenangan dan kenikmatan dunia, kita sering sekali melupakan Pencipta kita. Tuhan ada entah di mana kita letakkan dalam prioritas hidup.

Aku heran juga sama Tuhan. Kenapa Dia begitu baik sama kita manusia yang sering sekali mengecewakan-Nya? Kenapa Dia bisa begitu mencintai manusia yang tidak pernah bisa mambalas cinta kasih-Nya? Seandainya aku jadi Tuhan, mungkin aku akan membasmi semua manusia. Akan kubinasakan dan kuhancur-hancurkan mereka. Tapi sayangnya aku bukan Tuhan dan untungnya aku bukan Tuhan.

Teman-teman... Mari bersama-sama kita renungkan betapa baiknya Tuhan kita itu. Dia mau mati buat menebus kita. Jangan hanya datang pada-Nya saat sulit saja, namun datanglah pada-Nya dalam kondisi apapun juga...

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yoh 3:16

Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (Roma 5:15-21).  

Lalu bagaimanakah kehidupan kita? Apakah sudah memancarkan kasih?
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. (I Korintus 13:4-7)

Apakah kita sudah menghasilkan buah-buah Roh?
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23)

Friday, December 16, 2011

Aku Mencintai Dia Yang Hidup

Aku mencintai Dia yang hidup
Allah yang terlebih dahulu mencintaiku
Aku mencintai Dia yang hidup
Allah yang cinta-Nya membuatku terpukau
Aku mencintai Dia yang hidup
Allah yang mati buatku
Aku mencintai Dia yang hidup
Allah yang membayar lunas hutang-hutangku dengan darah-Nya
Aku mencintai Dia yang hidup
Allah yang cinta-Nya lebih dari cukup
Aku mencintai Dia yang hidup dengan cinta yang tak sempuna
Namun Dia tak pernah berhenti mencintaiku dengan cinta-Nya yang sempurna

Wednesday, November 16, 2011

Jangan Pernah Berhenti... Belajar

Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya bahwa aku telah menyelesaikan ujian kompetensi. Sebulan setelah ujian barulah keluar pengumuman kelulusan. Di sela-sela waktu antara ujian sampai STR (surat tanda registrasi) keluar, aku tidak bisa bekerja karena hal itu tidak dibenarkan secara hukum. Waktu jeda tersebut rencananya akan dipakai untuk "Lazy Time" kalau misalnya tidak melakukan pencarian dana/rapat KMdN XVIII. 

Hari ini merupakan "Lazy Time" hari keempat. "Lazy Time" itu diisi dengan makan, tidur, nonton dvd, atau baca komik. Nah hari ini aku diajak makan adikku di kawasan Jakarta Selatan. Setelah makan, aku ke sebuah toko buku ya kali aja bisa baca komik atau novel yang pembungkusnya terbuka (Aku suka baca novel atau komik gratisan di toko buka tapi pantang untuk membuka plastik buku tanpa membeli jadi ya para pemilik toko buku tidak usah takut. Kalau bukunya bagus dan aku suka pasti kubeli kok). Biasanya saat di toko buku aku paling suka ke bagian komik atau novel dan kadang-kadang ke bagian buku rohani atau sejarah). Ntah kenapa hari ini aku iseng-iseng saja keliling mengitari toko buku. Ketika sedang mengitari itu, aku tertarik dengan beberapa buah buku yang membahas mengenai kaum Yahudi. Aku tertarik membaca mengenai bangsa Yahudi itu bukan ada maksud-maksud tertentu apapun itu. Aku cuma ingin memuaskan keingintahuan mengenai bangsa terpilih itu karena sering sekali mendengar atau membaca caci maki terhadap mereka di media massa. Dari beberapa buku yang menarik perhatian, ada 2 buku yang aku baca walaupun cuma sekilas yakni Rahasia-rahasia otak Orang Yahudi, Cina, dan Jawa oleh Zahrotul Umamah el- AziziAgus Hariyanto serta Jerome Becomes A Genius : Mengungkap Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi ditulis Eran Katz. Memang aku mengakui bahwa orang Yahudi memang jenius, orang Cina ulet dan pekerja keras serta orang Jawa yang budayanya sangat khas. Setelah membaca buku tersebut aku malu pada diriku sendiri. Aku selama ini belum mengusahakan seluruh talenta yang diberikan padaku olehNya. Aku belum menghasilkan buah-buah Roh yang berkenan padaNya. Seandainya kelak aku bertemu denganNya dan Dia bertanya mengenai talentaku, apakah yang harus aku jawab? Aku mengakui bahwa selama ini masih malas. Masih belum sungguh-sungguh. Katanya mau memberikan yang terbaik tapi masih seperti ini. Masih belum berubah sama sekali. Tiba-tiba aku teringat pada ayat ini...

Hai pemalas pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.  Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata. Amsal 6:6-11

Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja. Ada tiga binatang yang gagah langkahnya, bahkan, empat hal yang gagah jalannya, yakni: singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun. Ayam jantan yang angkuh, atau kambing jantan, dan seorang raja yang berjalan di depan rakyatnya. Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah tangan pada mulut! Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul. Amsal 30:24-33

Tuhan... Aku ingin menjadi semakin serupa dengan Engkau. Aku ingin menyenangkan hatiMu. Aku ingin kelak saat kita bertemu, Engkau bisa berkata, "Well done My child". Untuk itulah aku perlu semakin banyak belajar.

Amin... Soli Deo Gloria

Monday, November 14, 2011

The Most Valuable Gift... Life

Sudah lama tidak blogging lagi. Hahaha... Banyak hal yang terjadi. Banyak hal yang mau diceritakan. Senang sekali rasanya telah selesai ujian. Thanks God... Apapun hasilnya aku tetap bersyukur.

Beberapa waktu lalu, sehabis ujian aku ingin sekali merayakannya dengan "adrenalin rush" alias dengan lari sepuas-puas dan selama yang aku bisa di treadmill. Jadinya aku ke gym hari itu setelah membeli buku pesanan teman. Saat itu kupikir telah membawa baju, celana, sepatu, air minum, kartu membership, gembok tapi ternyata tidak. Sewaktu telah di gym barulah aku menyadari bahwa telah lupa membawa sepatu. MAU LARI TAPI LUPA BAWA SEPATU. Hahaha... Bagaimana bisa? Akhirnya kuputuskanlah untuk sauna dan mandi saja.

Saat sauna, aku membawa majalah yang kupinjam dari cafe gym tersebut. Isi majalah itu mengenai "CANTIK". Sekilas tentang isi majalah tersebut... Ada seorang cewek sebut saja Nina, dia tinggi, langsing, cantik, kulit putih, rambut panjang lurus, pintar, dll. Pokoknya tipe yang kalau diikut sertakan dalam kontes-kontes kecantikan pasti menanglah. Namun sayangnya Nina ini tidak percaya diri dengan potensi yang dimilikinya. Cantik, Baik, Berasal dari keluarga dengan bibit bebet bobot yang oke punya, Pintar, dll. Dia selalu merasa hidupnya suram, kurang merasa berharga, tidak cantik. Dalam majalah tersebut dikatakan cantik itu identik dengan rasa percaya diri dan biasanya orang-orang yang demikian hidupnya lebih bermakna alias lebih baik.

Lalu teringatlah aku akan diriku dan hidupku...

Kadang aku masih seperti Nina yang kurang bisa bersyukur akan smua hal yang ada dalam hidupku. Keluarga, pendidikan, teman-teman, dll. Aku masih sering sekali membanding-bandingkan diri dengan keadaan orang lain. Masih seringkali berambisi untuk meraih hal-hal yang lebih tinggi. Sebenarnya tidak masalah berambisi namun perlu bersyukur dengan apa yang dimiliki. Tidak masalah berambisi, yang salah itu ambisi menjadi obsesi. Yang salah itu ambisi tanpa melibatkan Tuhan. Yang salah itu ambisi bertentangan dengan kehendak Tuhan. Jangan sampai ambisi itu ternyata "sampah" bagi Tuhan.

Jika kita berpikir tentang bersyukur, pastilah selalu identik dengan keberhasilan, tentang apa yang paling berharga. Berbicara mengenai sesuatu yang berharga pernahkah kita berpikir bahwa yang paling berharga itu sebenarnya adalah hidup baru yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dia telah mati gantikan kita di kayu salib. Hadiah terbesar dalam hidup yang sangat amat perlu kita syukuri adalah hidup baru dalam anugerah keselamatan yang diberikan Tuhan Yesus saat mati di kayu salib sekali untuk selamanya.





Monday, November 7, 2011

Hal Terutama yang Sering Terlupakan

Wakakaka... Sepertinya blog hari ini dirapel ya penulisannya. :)

Beberapa waktu belakangan ini lagi suka-sukanya baca blog orang. Nah salah satu topik yang aku baca itu tentang
The 5 Love Languages

Nah iseng-isenglah aku mencoba ikut tesnya di internet. Inilah hasilnya...
1. Quality Time
2 dan 3. Acts of Service dan Physical Touch (score sama)
4. Receiving Gifts
5. Words of Affirmation
Hmm... Aku sebenarnya tidak tau kriteria diagnosis The 5 Love Languages itu seperti apa? Maksudku dasar pemikiran sehingga dibuatlah pembagian ini. Aku cuma pengen sharing saja bahwa menurutku kriteria ini pada diriku cukup memenuhi. 
Nah... Ntah kenapa setelah ada hasilnya, aku kepikiran seperti ini. Bahasa cinta tidak tau kenapa sering sekali dikaitkan erat dengan pacar, pasangan hidup atau ntah apapun sebutannya. 
Kita harus tau bahasa cinta pasangan kita itu apa supaya kita bisa lebih mengerti dirinya...
Manusia memang aneh kadang-kadang jika kupikir-pikir atau aku yang aneh kalau sedang berpikir?
KENAPA YA KITA HANYA INGIN MENGERTI BAHASA CINTA PASANGAN KITA NAMUN JARANG MAU MENGERTI BAHASA CINTA TUHAN KITA? PADAHAL TUHAN KITA MAU DIKENAL DENGAN LEBIH MENDALAM LAGI LHO... 
Pernah kita berpikir untuk mencari tahu bahasa cinta Allah? 




Respon yang Berbeda

Sudah beberapa hari ini tidak nulis blog lagi. Sebenarnya kangen sih pengen cerita-cerita tapi ya kadang takut juga kalo mo bercerita di blog soalnya seringkali (bukan kadang lagi) mulut ini tidak ada sensorannya (belum ada lembaga sensor sih buat mulut). Hahahaha... Aku takut nanti seandainya ada pembaca yang merasa tersinggung karena berpikir dialah yang sedang diceritain di sini soalnya ada pernah teman yang merasa seperti itu. Padahal bukan dia yang diceritain. Hehehe... :P

Lanjut...

Beberapa hari lalu aku sms seorang teman. Aku meminta dia mengembalikan barang yang sudah kupinjamkan selama berbulan-bulan lalu. Saat itu dia berespon positif alias dia berjanji akan mengembalikan barang tersebut. Keesokan harinya saat sedang dalam perjalanan ke tempat pertemuan, aku sms dia lagi untuk memastikan. Ternyata hasilnya mengecewakan... Kondisi seperti ini sebenarnya membuatku kesel dong.

Seperti biasa respon orang bersalah, "Meminta Maaf."

Karena dia sudah meminta maaf ya makanya kumaafkan.

Lalu teringatlah aku akan kejadian beberapa waktu sebelumnya. Saat itu aku yang berada pada posisi yang sama seperti teman ini. Aku berjanji pada seseorang namun tidak bisa menepatinya.

Respons orang bersalah saat itu yakni aku sama seperti orang-orang lainnya, "Meminta Maaf."

Ironisnya... orang yang kepadanya aku bersalah adalah pacar teman yang mengecewakan tadi.

Tambah IRONIS lagi... Pacar temen itu menanggapi permintaan maafku dengan "AMAT SANGAT DINGIN." Versi lebay aku

Aku cuma bisa tertawa sinis saja menghadapi kejadian itu.

Ternyata...

HUKUM KASIH ITU SULIT UNTUK DITERAPKAN TERUTAMA JIKA ORANG YANG BERSALAH/ORANG-ORANG YANG DEKAT DENGAN ORANG YANG BERSALAH KEPADA KITA PERNAH MENYAKITI KITA.

"KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH UNTUK MEREKA YANG MENGANIAYA KAMU". Perlu perjuangan untuk mengasihi...

Ternyata...
ALLAH ITU AMAT SANGAT SABAR DAN MAHA PENGAMPUN. Mau mengasihi dan mengampuni bahkan mau mati untuk orang-orang yang tak pantas untuk dikasihi dan diampuni seperti aku ini...

Ternyata...

RESPON ORANG YANG MERASAKAN KASIH ALLAH AKAN SANGAT BERBEDA DIBANDINGKAN ORANG-ORANG YANG TIDAK MENGERTI AKAN ARTI KASIH.

Dua kejadian yang sama pada orang berbeda bisa memberikan respon yang berbeda. Manusia itu benar-benar kompleks...