Welcome...

Selamat datang di blog saya. Senang sekali ada yang mau berkunjung. Mencoba menjadi penulis yang baik. Menuliskan topik yang terjadi di sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi, lumayan panjang (walaupun capek mikir dan ngetik wakakaka...), inspiratif, informatif, dan tidak membosankan pembaca (karena saya males baca sebenarnya)... Semoga blog ini bermanfaat buat semua yang mampir. Terima kasih... :)

Thursday, March 31, 2011

Black and White


Hari ini aku melihat-lihat profile picture di facebook. Saat melihat primary picture yang kupasang beberapa hari lalu aku jadi terinspirasi untuk menuliskan mengenai Black and White ini.

Black and white... Mengapa bukan white and black?
 Black selalu diidentikkan dengan sesuatu yang jahat (gelap) sementara white diidentikkan dengan sesuatu yang baik (terang). Mengapa black dulu baru white? Hal tersebut biar kita sebagai anak-anak terang (white/orang yang telah diselamatkan oleh Kristus) lebih mengasihi mereka yang masih hidup dalam kegelapan (black/belum selamat). Kita tidak bersikap egois terhadap mereka.

"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Matius 22:36-40

Selain itu aku memikirkan mengenai mengapa manusia diciptakan begitu sangat berbeda bahkan kembar identik pun bisa berbeda?

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. I Korintus 12:12-31

Ya benar... Kita diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya agar kita bisa saling tolong-menolong. Sungguh alangkah indahnya bila hal itu terjadi

Tuhan memberkati...

Monday, December 20, 2010

Lepaskan Lalu Buat Ulang

Masih ingat kan ceritaku mengenai Dua Benang Rajut yang pernah kuposting sebelumnya? Long long time ago, aku memang pernah belajar merajut. Saat merajut, seringkali aku merasa jengkel karena rajutanku tidak pernah rapi. Memang sih sewajarnya tidak rapi karena masih pemula. Kejengkelan itu kulampiaskan dengan membuka jalinan benang-benang wol yang telah kubuat.  Benang-benang wol tersebut kemudian kurajut ulang dengan tujuan supaya hasil rajutannya menjadi lebih rapi dari sebelumnya. Kenyataannya... (Kisah ini mungkin mirip dengan ilustrasi tentang Penjunan dan Tanah Liat)


Dari kisah di atas mari kita dapat belajar mengenai:


Kita seperti benang-benang wol itu. Ketika kita memberi hasil yang tidak baik, kita akan dikembalikan ke keadaan semula terlebih dahulu (menyadari diri kita lemah dan berserah). Seperti benang wol yang dirajut ulang, demikian pula kita dibentuk ulang oleh Tuhan melalui rangkaian peristiwa yang tidak mengenakkan hingga kita menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa. Tampak sederhana bukan? Memang mudah kalau hanya sekedar berkata-kata. Namun kenyataannya tidak demikian. Kita bukan seperti benang wol yang merupakan benda mati. Pasrah. Mau diapakan saja boleh. Kita ini makhluk hidup yang memiliki kehendak. Coba kamu berada dalam kondisi seperti itu. Apakah kau akan berserah untuk dibentuk oleh Tuhan? Tidak. Hampir sebagian besar dari kita akan mengandalkan kekuatan kita. Mengandalkan otak kita yang pintar. Pengalaman kita yang banyak. Mungkin juga koneksi yang kita punya. Mengandalkan dan berserah pada Tuhan? Ow... Tunggu dulu. Tuhan menjadi pilihan terakhir apabila segala usaha tidak lagi berhasil. Atau mungkin kita terlalu sombong mengakui bahwa kita telah kalah hingga sama sekali tidak mau berbalik dari jalan kita yang sesat?


Aku pernah menerima sebuah jawaban dari seorang teman yang sangat baik mengenai pertanyaan. "Bagaimana supaya kita menjadi pribadi yang menyenangkan Tuhan?"


  1. Humble. Benar sekali. Kerendahan hati diperlukan agar kita menyadari bahwa kita ini manusia berdosa. Makhluk yang lemah dan bodoh. Lebih bodoh dari keledai. Keledai saja tidak jatuh dalam lubang yang sama namun kita jatuh dalam dosa yang sama berulang-ulang kali. Ketika kita sudah menyadari bahwa kita tak bisa apa, kita harus berserah pada Tuhan untuk mau dibentuk.  
  2. Teachable. Proses pembentukan itu tidak akan dapat berjalan apabila kita tidak mau diajar dan belajar. Mengapa diajar dan belajar? Mengapa tidak diajar atau belajar saja? Mari kita lihat ilustrasi ini... Kita tentu pernah mengikuti sebuah kuliah bukan? Pernahkah mahasiswa hadir semuanya(lengkap)? Tidak. Ada mahasiswa yang malas dan ada mahasiswa yang rajin. Bagaimana bisa menangkap pelajaran klo tidak mau diajar? Dalam satu kelas, apakah setiap orang akan menangkap jumlah materi yang sama? Tidak. Mungkin ada yang menangkap pelajaran 80 persen, 50 persen, bahkan mungkin ada yang tidak menangkap sama sekali. Itu terjadi karena tidak semua murid mau belajar alias memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Contoh yang lain dalam ujian. Apakah semua murid akan mendapatkan nilai yang sama? Semuanya dapat 100 atau semuanya dapat 60? Tidak. Mengapa terjadi perbedaan nilai yang bervariasi? Karena saat belajar tidak semuanya sungguh-sungguh belajar. Seperti itulah yang terjadi. Tidak semuanya orang yang mau diajar sungguh-sungguh mau belajar. Karena itulah tingkat pertumbuhan rohani setiap orang berbeda.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita rendah hati sehingga mau diajar dan belajar? Kalaupun mau diajar, apakah kita sungguh-sungguh mau belajar?

  

Sunday, December 19, 2010

Too Much Love Will Kill You (In The End)

Beberapa hari ini aku sering banget minum green tea. Hal itu bermula dari keisengan pada suatu suatu siang yang panas di kantin sebuah rumah sakit. Saat itu pengen saja merasakan bagaimana rasa green tea botol yang sering banget diminum oleh seorang teman. Ya jadinya pada hari itu aku minumlah green tea botol tersebut. Ntah kenapa rasa green tea tersebut sesuai dengan seleraku. Besoknya aku minum green tea lagi tapi kali ini green tea ditambah madu. Dan keesokan harinya, keesokan harinya lagi hingga sekarang setiap hati aku pasti minum green tea paling tidak sebotol sehari.

Berbicara mengenai addicted, aku teringat akan pasien-pasien di stase interna kemarin. Hampir sebagian besar dari mereka menderita Diabetes Melitus. Diabetes melitus adalah suatu gangguan metabolisme yang ditandai oleh hiperglikemia kronik dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein hasil dari kerusakan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit ini sangat jahat karena dapat menimbulkan komplikasi baik itu mikrovaskular maupun makrovaskular yang secara perlahan akan menimbulkan kematian tanpa disadari oleh panderitanya. Kenyataan itulah yang aku lihat selama menjalani stase interna. Banyak dari penderita diabetes itu harus mengkonsumsi obat untuk mengatur kadar gula darah mereka karena ketika mereka didiagnosa diabetes, kondisi mereka sudah memburuk.


Lalu apa hubungan antara kecanduan minum green tea, diabetes, dan judul postingan ini?

Hari ini bersama dengan teman-teman, aku melakukan pelayanan kesehatan di Teluk Naga. Di mobil sewaktu berada dalam perjalanan, kami mendengarkan lagu dari ponselku. Aku memperdengarkan lagu yang berjudul Too Much Love Will Kill You karena menurutku lagu tersebut cukup unik. "Terlalu banyak cinta akan membunuhmu"

Green tea membuatku kecanduan, makanan/minuman manis membuat pasien-pasien ketagihan. Ketika aku berpikir soal kecanduan, aku teringat akan dosa. Ya dosa itu nikmat. Dosa itu menyukakan hati. Dosa itu membuat kita kecanduan. Dosa mengikat kita. Dia terus-menerus menggoda kita. Setidaknya itulah yang aku alami saat ini. Aku sms seorang teman begini. "Keledai saja tidak akan jatuh dalam lubang yang sama. Namun aku jatuh dalam dosa yang sama berkali-kali. Ya ternyata aku lebih bodoh dari keledai."


Setiap hal yang berlebihan itu tidak baik. Cinta yang berlebihan bisa membunuhmu perlahan-lahan dengan kecemburuan yang tidak rasional. Berpikir tentang suatu hal yang sebenarnya tidak terjadi. Selain itu dosa yang berlebihan alias mengulang-ulangi dosa terus-menerus tidak baik. Kristus telah mati bagi aku. Bagi kita semua. Aku merasa menyia-nyiakan keselamatan itu dengan jatuh ke dalam dosa terus-menerus. Lagi belajar dan berjuang untuk keluar dari dosa-dosa yang belum diselesaikan. Berharap setiap orang yang membaca tulisan ini boleh kembali merenungkan betapa besar kasih Allah buat kita sehingga Kristus mau mati buat kita ketika kita masih berdosa.

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Roma 5:6-8

Tuhan Yesus memberkati...

Friday, December 17, 2010

Kesan Penonton

Sudah dua hari ini aku nonton film berturut-turut. Salah satu film yang aku tonton itu The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader. Dari film itu, aku menangkap beberapa pelajaran berharga di dalamnya. Berikut ini aku akan membagikan beberapa pelajaran penting yang aku dapat.
  1. Ketidakpercayaan Eustace ketika melihat seekor tikus yakni Reepicheep dapat berbicara seperti manusia.Eustace berpikir apakah saat ini dia sedang bermimpi? Ketika menyaksikan adegan itu, aku sepertinya dihadapkan pada suatu peristiwa penting di dalam Alkitab. Masih ingat peristiwa "Yesus Menampakkan Diri Kepada Tomas" - Yohanes 20:24-28? Terkadang kita seperti Tomas, kita meragukan mengenai Tuhan kita Yesus Kristus. Kita meragukan banyak hal. Kita meragukan apakah Dia sungguh-sungguh bangkit? Kita meragukan bahwa Dia Tuhan. Kita meragukan kasih penyertaan-Nya. Kita meragukan kuasa-Nya, bahwa Dia berkuasa atas segalanya. Mengapa kita mesti ragu? Dia benar-benar adalah Tuhan kok. (Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat-Ibrani 11:1).
  2. Juga ada adegan dimana Eustace didorong oleh Reepicheep untuk terus maju ketika menghadapi masalah. Dari sana aku belajar tentang keberanian untuk menghadapi masalah bukan lari dari masalah. Aku selalu suka dengan Reepicheep karena dia selalu optimis, mengambil hal postif dari setiap ketidakberuntungan yang terjadi, yang paling penting dia sangat percaya dan mau berjuang untuk Narnia, untuk Aslan.
  3. Ketika sampai ke adegan Lucy yang sangat ingin menjadi cantik seperti Susan, aku teringat pada seseorang dan make up. Seperti halnya Lucy, seseorang ini menganggap make up itu sangat penting untuk membuat cantik. Ketika Lucy sudah bersentuhan dengan make up atau apapun itu, dia kehilangan identitasnya. Dia berubah menjadi orang lain (Susan). Banyak yang mengkritik C.S. Lewis karena menganggap dia anti terhadap perempuan. Kritik itu muncul karena Susan tidak dapat lagi masuk ke Narnia karena telah mengenal lipstik, dll. Menurutku, maksud C.S. Lewis bukan seperti itu. Menurut aku, maksud C.S. Lewis itu Susan sudah tidak benar-benar murni lagi hatinya. Hatinya telah terbagi dengan hal-hal lain (lipstik dll). Dari sini kita dapat belajar bahwa kecantikan itu bukan polesan bedak di wajah atau lipstik di bibir kita, namun kecantikan itu apa yang berasal dari hati kita. Kita juga dapat belajar bahwa untuk berkenan kepada Allah, hati kita harus benar-benar murni. Kita harus punya hati seperti seorang anak kecil (Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub." Mazmur 24:3-6)
  4. Sampailah kita pada adegan terakhir di mana semuanya bertemu dengan Aslan. Di mana mereka akan ke dunianya Aslan. Di sini kita dapat melihat bahwa Caspian menolak ke dunia Aslan karena tidak bisa meninggalkan rakyatnya. Begitupula dengan Edmund, Lucy, dan Eustace, mereka pun menolak untuk pergi. Dari semuanya hanya Reepicheep yang bersedia pergi. Ketika pergi, Reepicheep meninggalkan pedangnya karena beranggap pedang sudah tidak diperlukan lagi di dunia Aslan. Dari sini kita dapat belajar bahwa jika Allah memintamu untuk melepaskan semua hal yang kamu miliki untuk mengikuti Dia, apakah kamu akan melepaskannya? Di sini kita melihat bahwa Caspian, Edmund, Eustace dan Lucy tidak dapat pergi. Kita juga melihat bahwa Aslan menghormati pilihan mereka. Begitu juga Allah, Dia menghormati apapun pilihan kita dan apapun pilihan kita itu haruslah kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Kita juga dapat belajar dari Reepicheep, ketika dia mengikuti Aslan ke dunianya, dia melepaskan pedangnya padahal pedangnya adalah kebanggaannya. Begitu juga kita, ketika kita mengikuti Allah, kita harus melepaskan semua kebanggaan kita. Bukan hanya itu, aku mengambil kesimpulan bahwa Reepicheep menganggap pedang itu tidak perlu karena dia yakin bahwa di dunia Aslan pedangnya sudah tidak diperlukan lagi. Di dunia Aslan tidak ada yang namanya perang, yang ada hanya kedamaian.
Pertanyaan penting yang aku renungkan ketika selesai menonton film ini. "Siapkah aku ikut Tuhan?"

Monday, December 6, 2010

Lanjutan Percakapan Di Bis

Aku ingat pembicaraan mengenai topik pasangan hidup yang begitu semangat diperbincangkan dalam bis menuju ke tempat retret beberapa waktu yang lalu. Pada waktu itu aku ditanya bagaimana pandanganku mengenai pasangan hidup. Kalau kau bertanya padaku mengenai kriteria pasangan hidup, aku membedakannya hanya menjadi 2 bagian yakni penting untuk dimiliki dan dimiliki bersyukur namun tak dimiliki pun tak mengapa. Sebenarnya aku ingin menambahkan lagi satu hal penting mengenai pasangan hidup namun aku lupa cerita mengenai yang selengkapnya mengenai “Pasangan Dari Tuhan”. Hari ini entah mengapa aku tergerak untuk mencari tulisan mengenai “Pasangan Dari Tuhan” itu dari internet.

Pasangan Dari Tuhan

Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, “Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.

Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku,” Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan. ” Aku bertanya, “Mengapa Tuhan?” dan Ia menjawab, ” Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.” ” Aku bertanya lagi, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?” ” Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidak benaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…”

Kemudian Ia berkata kepadaku, “Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.

Pernikahan adalah seperti sekolah – suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu.”

Tulisan tersebut mengajarkanku suatu hal yang penting. Kebanyakan dari kita sibuk membuat daftar kriteria pasangan hidup yang kita inginkan namun jangan egois, pernahkah membuat daftar kriteria hal-hal apa yang harus kau miliki untuk menjadi orang yang tepat bagi pasanganmu?

Saturday, November 6, 2010

Bersyukurlah (Hitung Berkat-Berkatmu)

Beberapa waktu belakangan ini aku suka sekali mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan Jose Mari Chan. Salah satu lagu yang suka kudengar adalah Count Your Blessings…

Lagu tersebut sangat menyentil. Betapa aku seringkali mengeluh. Seringkali merasa tidak puas. Lalu aku teringat akan karya yang telah lama terlupakan ini

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan,
Seandainya sudah,apalagi yang harus diinginkan?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu segala ssesuatu,
Karena itu memberimu kesempatan untuk berusaha

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit,
Di masa itulah kamu bertumbuh

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu,
Karena itu membarimu kesempatan untuk berkembang

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru,
Karena itu akan membangun kekuatan dan karektermu

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat,
Itu akan mengajarkan palajaran yang berharga

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih,
Karena itu berarti kamu telah membuat perbedaan


Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang kepada mereka yang juga bersyukur akan masa yang surut. Rasa syukur akan mengubahkan hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara untuk bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkat bagimu

Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya;

Mazmur 86:12

Better ( Not ) Late Than Never

Di sebuah pembukaan butik baru di mal baru, saya mengobrol dengan teman adik saya, yang kemudian menjadi teman saya juga.

Kami mengobrol melalui telepon genggam. Kami mengobrol tentang ayah kami masing-masing yang kebetulan terserang penyakit pada waktu bersamaan. Ayah teman saya diserang nyamuk yang membuat ia demam berdarah, ayah saya jantungnya diserang lemak atau apapun itu yang membuat beberapa pembuluh darahnya tersumbat.

Kami tak bicara soal kedua serangan itu, tetapi lebih mengobrol soal judul di atas, yang dikaitkan dengan "penghormatan" kami terhadap manusia bernama orangtua, dalam situasi pelik seperti saat mendapat serangan itu.

Awalnya, saya bercerita mengenai kondisi hubungan saya dengan ayah, sejak pertama kali saya terusik "surat edaran"tak tertulis soal peraturan rumah yang "ditandatangani" kepala keluarga, dengan tembusan kepada wakil kepala keluarga. Juga, sejak saya mampu tak lagi dikuasai pendapat kepala rumah tangga yang acapkali menimbulkan cipratan-cipratan api kecil.

Begitu banyak hal yang tak saya setujui, terutama masa remaja ketika datangnya sifat pemberontak yang meletup-letup dan susah dikekang. Namanya juga pemberontak, tak mungkin mau dikekang, bukan? Maka pertanyaan mengapa saya harus tidur siang sementara anak tetangga asyik bermain layangan, dan dengan lantang memanggil nama saya berkali-kali dari luar rumah sehingga ritual tidur siang saya tak hanya terganggu, tetapi memampukan saya melakukan tindakan melanggar surat edaran itu, sering datang di kepala saya.

Juga soal mengapa saya harus berenang kalau saya suka balet, mengapa saya harus tahu mobil kalau saya suka karate, mengapa saya harus dikumonkan kalau saya tidak mau dikumonkan. Bahkan, dari sejak sekolah dasar saya sudah bertanya kepada ibu saya, mengapa saya harus bersekolah kalau pelajaran Pancasila atau hitung-menghitung bisa saya dapatkan di dalam rumah sambil makan plecing kangkung. Dan sejuta permasalahan yang membuat saya merasa orangtua itu tak bedanya dengan sipir penjara.

Kalau tingkat kewarasan saya dalam keadaan memuncak, saya bisa mengerti orangtua tak bedanya seperti kata Candil bahwa rocker itu hanyalah manusia. Maksudnya, tak bisa bebas dari membuat kesalahan. Tetapi, hukum sosial umumnya mengharapkan orangtua kalau bisa tidak boleh punya kesalahan. Kasihan juga jadi orangtua, ternyata tertekan juga. Tak beda dengan anak-anaknya. Jadi, yang menekan dan yang ditekan ternyata juga punya beban yang sama.

Mirip Rocker

Teman saya memberi komentar sambil tertawa-tawa. Ia kemudian bertanya tentang masalah ayah saya yang sampai membuatnya tergeletak di bangsal rumah sakit. Bicara rumah sakit, selain untuk menampung dan mengobati orang sakit, juga membuat orang sakit bertambah sakit dengan suasananya yang terkadang tidak manusiawi dan perlakuan para pekerja rumah sakit-termasuk dokter- yang sami mawon, meski masih ada saja yang masuk ke dalam kelompok kecil sebagai kelompok yang baik budi.

Maka, kalau orang sakit masuk rumah sakit kemudian menjadi tambah sakit, mungkin itu bukan salah dokternya. Karena sudah sakit kok berani masuk rumah yang sakit. Mungkin mereka yang tidak manusiawi itu dapat juga berkata kepada saya, " Kami kan sama dengan rocker, cuma manusia." Manusia yang tidak manusiawi, maksudnya.

Setelah saya menjelaskan mengapa ayah saya sampai terbaring di rumah sakit, teman saya bertanya lagi, " Memang lo sendiri saja nungguin Bokap?"

Saya menjelaskan, saya ditemani Ibu. Kemudian ia menjelaskan, sekarang ia menunggui ayahnya lebih karena merasa bersalah, merasa telah membuang waktu untuk hanya memikirkan dirinya sendiri selama ini, dan tak banyak menyediakan waktu pada masa-masa lalu bersama ayahnya.

Ketika kadar trombosit ayahnya semakin rendah, perasaannya semakin bersalah. Ia bahkan mengatakan jangan sampai ayahnya game over ( istilah yang saya pinjam dari seorang ibu, pembaca parodi ini, melalui kartu ucapan yang mengharukan yang dikirimkannya kepada saya ), sebelum ia bisa melunasi perasaan bersalahnya. " Maka itu, gue ngejagaan Bokap meskipun gue capai banget karena setiap hari masih harus kerja," katanya.


Bayar Utang

Saya merasa sedih, tidak untuk cerita teman saya, tetapi saya sedih untuk diri saya sendiri yang tak ada bedanya dengan situasi teman tadi.

Kedua ayah kami sama-sama sakit, eh…anak-anaknya sama-sama sedang mencoba melunasi pembayaran utang-utangnya yang berpuluh tahun sudah menumpuk dan hendak dilunasi dalam waktu sekian minggu.

Dan pelunasannya mengambil tempat di dalam rumah sakit, tepatnya di kamar di mana seorang manusia bernama ayah sedang "terikat" selang oksigen dan infus, menatap orang yang selama ini dianggapnya mengasihi, dengan pandangannya lemah, letih, lelah, lesu.

Pembayaran utang itu kemudian diwujudkan dengan menjaga siang dan malam di bangsal rumah sakit, menyediakan apa saja yang dibutuhkan, menaikkan doa mencoba merayu Tuhan agar menyembuhkan. Padahal, dengan ayah sendiri saja saya jarang memiliki hubungan yang baik, apalagi dengan Sang Pencipta. Jadi, saya malah memborong dua rasa bersalah pada waktu bersamaan. Kepada Ayah dan kepada Sang Khalik.

Dan dengan melakukan semua itu, saya menjunjung tinggi dan mengaminkan ungkapan kondang dan klise : " better late than never ".

Padahal, kalau dipikir, itu cuma ungkapan banyolan saya saja karena tidak mau menerima rasa bersalah yang tak terbayarkan. Terlambat ya terlambat saja. Terlambat itu ya salah. Kalaupun keterlambatan itu bisa dibayarkan, itu juga tidak membuat saya yang terlambat menjadi tidak terlambat dan tidak bersalah. Saya tetap terlambat dan bersalah.

Dan bagaimana saya dapat membandingkan keterlambatan dengan kata never alias tidak sama sekali. Kedua hal yang berbeda bagaikan wajah saya dengan Ashton Kutcher. Jadi, terlambat dan tidak sama sekali tidak ada "better-better"-nya. Yang better adalah kalau saya tidak terlambat.

Semua itu karena saya mencoba menghilangkan perasaan bersalah secara instan, seperti sebuah iklan sabun cuci, pembersih noda yang mempu menghilangkan seketika. Teman saya bertanya, " Lo mau menghilangkan noda bersalah lo itu? "

Tentu saya menjawab dengan mengganggukkan kepala. Kemudian ia menjawab, " Gelek aja tuh sabun cuci. "

Oleh : Samuel Mulia

Seperti cerita Samuel di atas, saya pun teringat dengan orangtua saya terutama ayah saya. Selama hidup saya, tak pernah sekalipun saya membuat ayah saya bangga, membuat beliau senang, membuat beliau tertawa. Ketika ayah saya sakit, saya tidak ada di sampingnya. Bahkan saya tidak tahu bahwa ayah masuk rumah sakit sudah hampir seminggu karena stroke. Sejak saat itulah setiap saat saya menelepon ke rumah dengan alasan yang dibuat-buat padahal hanya untuk mengetahui keadaan rumah seperti apa. Jujur dalam hati, saya mengasihi orangtua saya, tetapi sejak dahulu saya tidak pernah akur dengan anggota-anggota keluarga di rumah. Mungkin hal itu disebabkan dengan sikap pemberontak, pembangkang, pemarah, dan mudah tersinggung saya. Tetapi setelah melewati proses yang tidak mudah akhirnya saya pada suatu titik di mana saya bisa tahu betapa berharganya sebuah keluarga.

Saya setuju dengan sebuah ungkapan : Keluarga seperti sebuah gurita, kita selalu berusaha lepas darinya. Namun kita tidak pernah lepas dari tentakel-tentakelnya.

Ke manapun kita melangkah. Seberapa jauhnya perjalanan kita. Ketika sudah capai, pada akhirnya kita akan kembali pulang ke suatu tempat yang namanya rumah dan sebuah kehangatan yang bernama keluarga