Welcome...

Selamat datang di blog saya. Senang sekali ada yang mau berkunjung. Mencoba menjadi penulis yang baik. Menuliskan topik yang terjadi di sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi, lumayan panjang (walaupun capek mikir dan ngetik wakakaka...), inspiratif, informatif, dan tidak membosankan pembaca (karena saya males baca sebenarnya)... Semoga blog ini bermanfaat buat semua yang mampir. Terima kasih... :)
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Saturday, November 6, 2010

Pathway of Pain

If my days were untroubled and my heart always light,
would I seek that fair land where there is no light?

If I never grew weary with the weight of my load,
would I search for God’s peace at the end of the road?

If I never knew sickness and never felt pain,
would I search for a hand to help and sustain?

If I walked without sorrow and lived without loss,
would my soul seek solace at the foot of the cross?

If all I desired was mine day by day,
would I kneel before God and earnestly pray?

If God sent no winter fo freeze me with fear,
would I yearn for the warmth of spring every year?

I ask myself these and the answer is plain;
if my life were pleasure and I never knew pain,

I’d seek God less often and need Him much less,
for God is sought more often in times of distress

And no one knows and sees Him as plain as those
who have met Him on the Pathway of Pain

Author Unknown

Aku pernah membaca sebuah tulisan tentang seorang atheis yang bertanya jika memang ada Tuhan, mengapa ada penderitaan? Jika memang ada Tuhan mengapa ada kejahatan? Di manakah Tuhan?

Seringkali kita pun bertanya hal yang sama. Di manakah Tuhan? Kita berdoa namun tidak ada jawaban yang diterima. Apakah Tuhan benar-benar ada? Jika memang ada, mengapa Dia tidak menjawab doa kita? Apakah Tuhan itu tuli? Dia tidak bisa mendengar? Apakah Dia juga buta sehingga tidak bisa melihat penderitaan kita?

Tidak ada seorang pun yang bertemu dengan Tuhan namun hidupnya tidak berubah. Mari kita lihat Paulus. Dia yang dulunya pemburu jemaat menjadi rasul yang luar biasa bagi Kristus bahkan dia rela disiksa dan mati bagi Kristus. Kita bisa membaca pernyataannya yang sangat terkenal Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Filipi 1:21. Siapa lagi contoh lain? Penderitaan jangan lupakan Ayub yang dalam penderitaan masih bisa memuji Allah. "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"Ayub 1:21 dan walaupun sudah sangat menderita dan diminta oleh istrinya untuk mengutuki Allah malahan bisa berkata, "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?"Ayub 2:10.

Aku masih ingat dengan jelas kata-kata adikku saat aku mulai mengeluhkan mengenai hal-hal yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Seharusnya kamu senang karena menderita. Itu berarti Tuhan mengizinkan kamu merasakan apa yang Dia rasakan.

Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Ibrani 11:13

Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan. Ibrani 11:35-40

Mungkin saat ini kita masih hidup dalam penderitaan dan kita belum melihat pemenuhan janji Allah, akan tetapi percayalah bahwa Yesus pergi untuk menyediakan suatu tempat buat kita.
Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Yohanes 14:1-4

Monday, November 1, 2010

Love Lead Me Back

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman men-tag sebuah foto di facebook. Foto tersebut foto kenangan sewaktu kelas 2 SMA, saat ulang tahun wali kelas kami yang ketiga puluh lima. Entah mengapa foto itu membuatku menjadi melankolis. Membuatku kembali ke masa lalu yang kubenci sekaligus kurindukan. Ada saat-saat manis, namun tidak sedikit pula saat-saat pahit. Aku ingat semuanya itu seakan-akan peristiwa itu baru saja terjadi kemarin bukan tujuh tahun yang lalu. Kepingan-kepingan kenangan itu menyatu kembali membentuk suatu cerita.

Ruangan kelasku berada di bangunan baru yang terletak di sebelah kanan pintu gerbang sekolah. Bangunan baru tersebut terdiri atas dua lantai dengan empat ruangan kelas dan kelasku sendiri yakni kelas 2.1 berada di lantai atas bersebelahan dengan kelas 2.2. Karena sekolahku adalah sekolah negeri, maka tidak heran jika murid warga keturunan Chinese di kelas 2.1 hanya ada dua orang termasuk aku.

Dulu... Kelasku sangat kompak. Kami sering melakukan hal-hal gila. Membuang tas keluar melalui tembok pagar belakang sekolah lalu diam-diam kabur saat tidak dilihat penjaga sekolah. Kami sering kumpul-kumpul buat masak dan makan bersama.

Aku ingat pada teman karib sekaligus teman sebangku. Kami sangat kompak dalam menyontek. Karena badanku cukup besar, aku menghalangi penglihatan guru sementara dia membuka buku.

Bercerita tentang masa-masa sekolah, aku tidak akan lupa pada seseorang yang begitu berkesan. Berkesan karena dia adalah tetanggaku dan telah menyukaiku sejak masih sekolah dasar. Dia sangat sering menggangguku dengan kiriman salam melalui teman-temannya juga dengan lagu-lagu dan tarian-tarian India. Dia sangat suka bertingkah seakan-akan dia adalah tokoh utama pria dan aku tokoh utama wanita dalam film India. Sejujurnya aku sangat terkesan padanya. Sampai saat ini belum pernah ada yang menyukaiku segila dan selama dia. Sejak masih kelas satu sekolah dasar sampai sekolah menengah atas.

Baru saja kemarin aku meng-confirm salah satu orang yang pernah kusukai. Aku tertawa sewaktu salah seorang teman lama mengatakan dia adalah pacarku sewaktu SMA. Hal itu tidaklah benar walaupun kami pernah cukup dekat. Dia sangat pintar Fisika serta Matematika dan aku sering menyalin tugas-tugasnya. Aku tertawa karena dia melamarku kemarin dan aku harus menerima lamarannya itu. Sewaktu aku menanyakan mengapa aku harus menerima lamarannya, dia menjawab karena dulu dia sering memberi contekan padaku. Orang yang sungguh aneh. Apa hubungannya menerima lamaran dengan contekan? Yang aku tahu, dia banyak berubah. Sudah tidak seperti orang kusukai dulu. Mungkin boleh dikatakan, aku tidak menyukai perubahan yang terjadi padanya.

Saling memberi komentar foto di facebook. Saling melempar olokan. Mungkin hal itu akan menjadikan seseorang menjadi dekat. Dia berubah. Menjadi lebih baik dan responsif padaku tidak seperti dulu. Dulu aku memang menyukainya. Menyukainya dengan perasaan remaja. Tapi tidak demikian sekarang. Perasaan itu kutinggalkan bersama berlalunya masa SMA. Tidak akan ada kisah masa lalu yang terulang.

Masa SMA tidak bisa lepas darinya. Dia kembali seperti hantu yang menakutkan. Kembali melakukan pendekatan-pendekatan padaku. Yang bisa kulakukan hanyalah bersikap sopan dan bersahabat. Hanya itu. Tidak lebih. Seharusnya aku benci padanya tapi tidak kulakukan. Walaupun pernah menyakiti hatiku, tapi aku tidak pernah menyimpan kebencian padanya dan tidak pula menyimpan cinta padanya.

Banyak hal yang bisa kuceritakan. Tentang betapa jahatnya aku pada adik-adikku dan kedua orangtuaku. Betapa aku sering memberontak melawan papa mama. Menyakiti hati mereka. Betapa aku tidak akur dengan adik-adikku.

Bisa kuceritakan kegagalan-kegagalan maupun hinaan-hinaan yang kuterima. Bisa kukatakan bahwa kehidupan membentuk aku dengan keras. Mengajari betapa salahnya aku. Betapa hina dan berdosanya aku. Betapa aku sangat jahat dan hatiku menyimpan kebusukan. Bisa pula kukatakan bahwa Allah begitu baik. Amat sangat baik padaku. Dia sangat mengasihiku sekalipun aku jahat. Amat sangat jahat.

Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak pernah berubah, tetapi hal itu tidaklah benar. Tuhan menggunakan waktu, lingkungan, pengalaman membentuk pribadi setiap orang, salah satunya diriku. Aku berubah.

Ingin sekali kukatakan bahwa aku benci hidupku. Benci masa laluku. Menyesali semua hal yang terjadi di waktu lampau. Jika aku mengatakan hal itu berarti aku berbohong. Aku mencintai hidupku. Tidak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi. Ingin pula kukatakan bahwa aku menderita. Aku tidak mempunyai banyak teman. Itu pun tidak benar. Mungkin memang sudah bawaan dari lahir, aku mudah berteman dengan orang lain sehingga teman-temanku cukup banyak dan mereka dapat menerimaku sekalipun aku berbeda. Mereka pribumi sementara aku warga keturunan Chinese.

Ingin pula kukatakan bahwa mereka dulu jahat padaku. Mereka tidak pernah menganggapku teman. Tapi itu tidaklah benar. Kenyataannya mereka baik padaku. Akulah yang membangun tembok dengan orang-orang. Aku tinggal di dalam lingkaran yang kubuat. Tidak pernah kuizinkan dan kurasa pantas untuk orang-orang masuk dalam hatiku dan tinggal di dalamnya. Ya... Aku orang yang egois, keras kepala dan keras hati. Aku hanya mencintai diriku sendiri. Seperti itulah aku sampai aku bertemu dengan Kristus. Tidak ada orang yang bertemu pada-Nya dan tidak berubah. Dia membuka lingkaran dan meruntuhkan tembok yang kubuat. Setiap kali aku lari dan mulai membangun tembok Yeriko-ku, Dia selalu menuntunku kembali ke rumah. Love lead me back...

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Roma 5:6-8

Greatest Love Story

Wuih... Udah lama y ga posting tulisan lagi. Hohoho... Sepertinya Tuhan tidak memberikan inspirasi untuk menulis (sekarang sih udah ada 1 ide ok ntar akan dituangkan dalam bentuk tulisan dan sharing langsung). Hmm... Hari ini aku posting tulisan karena kmrn seseorang bertanya kepadaku kenapa tidak kirim email lagi... :)

Ada dua topik yang begitu hangat di dalam kehidupanku saat ini.
1. Mengenai dokter yang misioner (panggilan hidup)
2. Cinta (Pasangan hidup)

Aku menuliskan tulisan mengenai cinta bukan berarti topik tersebut lebih penting daripada topik panggilan hidup melainkan karena tulisan ini sudah pernah diposting sebelumnya di friendster tinggal diedit sehingga lebih baik. Tulisan mengenai panggilan hidup masih dalam kerangka pikiran. Perlu disusun dengan lebih baik. Hehehe...

Suatu ketika, aku bersama seorang teman pernah menonton MV lagu dari Kiss (nama penyanyi). Lagu tersebut bercerita mengenai seorang cowok yang mendonorkan matanya kepada kekasihnya yang matanya buta akibat tidak sengaja menumpahkan cairan berbahaya ke matanya. Teman tersebut berkomentar, mengapa dia tidak memberikan sebelah matanya saja sehingga mereka masing-masing mempunyai sebelah mata yang dapat melihat. Dengan demikian keduanya bisa bersama. Kisah itu pun dapat berakhir dengan bahagia.
Mari kita belajar dan merenungkan mengenai lagu dan perkataan temanku itu.
Seandainya kita mencintai seseorang, apakah kita tidak akan memberikan bagian/hal terbaik dalam hidup kita buat orang yang kita cintai? Tentu saja kita akan memberikan yang terbaik bukan?

Ayo kita bandingkan kisah cinta di atas dengan kisah cinta yang terjadi 2000 tahun lebih di Golgota. Mari kita renungkan Yesaya 53

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar,
dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?
Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN
dan sebagai tunas dari tanah kering.
Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia,
dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.
Ia dihina dan dihindari orang,
seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan;
ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia
dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,
dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,
padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Kita sekalian sesat seperti domba,
masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,
tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas
dan tidak membuka mulutnya
seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian;
seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil,
dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya?
Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup,
dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.
Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik,
dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat,
sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.
Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan.
Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah,
ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut,
dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.
Sesudah kesusahan jiwanya
ia akan melihat terang dan menjadi puas;
dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar,
akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan,
dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan,
yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut
dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak,
sekalipun ia menanggung dosa banyak orang
dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak

Menurutmu diantara kedua kisah tersebut di atas, manakah yang menceritakan kisah cinta yang paling besar? Kisah pertama atau kisah kedua? Mari kita beri perbandingan.

Kisah pertama : memberikan mata buat orang yang dicintainya

Kisah kedua : mati buat orang yang dicintai-Nya sekalipun orang yang dicintai tersebut tidak layak menerima pengorbanan sebesar itu

Sungguh ironis... Manusia seringkali meneteskan airmata untuk cinta yang semu. Cinta yang bisa memudar seiring dengan berjalannya waktu. Mereka seringkali lupa dan tidak menghargai cinta yang tak lekang oleh situasi dan waktu. Cinta yang tak pernah berubah dahulu, sekarang, maupun masa mendatang. Kita seringkali lupa mengenai cinta dan pengorbanan Kristus di kayu salib buat kita.

Mari kita renungkan dan mengingat kembali Cinta Pertama dan Terbesar dalam hidup kita. Jangan pernah menggantikannya dengan apapun.

Ketika saat ini kita tidak setia, segera kembali pada-Nya karena Dia memiliki kasih agape

Selamat merenungkan. Tuhan Yesus memberkati

Monday, September 13, 2010

Gaun Yang Tak Terbeli (God Will Make A Way)

Kejadian ini sudah terjadi lebih dari setahun yang lalu dan mungkin pernah kuceritakan pada beberapa orang. Aku menuliskan kembali kisah ini karena prihatin terhadap cerita seseorang mengenai sahabatnya. Perlu kututurkan di awal bahwa notes ini tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun. Tidak pula bermaksud menggurui karena aku pun bukan orang yang sempurna. Notes ini hanya sebagai bahan renungan. Aku berdoa agar apapun yang aku tulis dapat bermanfaat bagi orang lain karena aku suka sekali menulis.


"... jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!" Kidung Agung 3:5


Pada suatu sore saat berjalan-jalan di mall, aku melihat sebuah gaun terpajang di etalase sebuah toko. Gaun itu berwarna putih dan sangat indah. Karena tertarik dengan gaun tersebut, aku masuk ke dalam toko. Bermaksud untuk mencobanya. Apabila cocok, aku akan membelinya. Ketika mencobanya, ternyata gaun itu pas dan tampak cantik saat kupakai. Harganya 300 ribu lebih. Tiga ratus ribu lebih, mungkin bagi sebagian orang jumlah itu bukanlah jumlah yang besar, namun bagiku tiga ratus ribu bisa dipakai untuk membayar kos selama sebulan dan makan beberapa hari. Akhirnya aku tidak jadi membeli gaun tersebut. "Jika memang gaun itu ditakdirkan menjadi milikku, bagaimana pun caranya gaun itu pasti kumiliki." Setiap kali lewat di depan toko tersebut aku bertanya-tanya. "Apakah gaun itu sudah terjual? Siapakah yang telah membelinya?"


Saat gaun itu sudah terlupakan...


Sebulan lagi saudara sepupuku akan menikah. Mama dan adik perempuanku minta dibelikan tas dan gaun untuk dipakai pada pernikahan saudara sepupuku itu. Karena itulah kuluangkan waktu ke Mangga Dua untuk mencarikan mereka gaun dan tas. Setelah agak lama mencari, sampailah aku di sebuah toko. Toko itu terletak di lantai paling atas dan di tempat yang agak terpencil. Toko itu mungkin akan terlewati begitu saja jika tidak diperhatikan dengan seksama.


Aku melihat-lihat gaun-gaun yang terpajang di toko tersebut. Dua sampai tiga gaun diturunkan untuk diperlihatkan padaku sebelum aku melihat gaun itu. Gaun itu mirip dengan gaun yang dulu kuinginkan. Gaun yang kuinginkan dulu itu halter neck dan berwarna putih sedangkan gaun ini setali berwarna merah. Persamaan antara kedua gaun ini adalah rok dan pita di pinggangnya (Maaf aku tidak begitu pandai menggambarkan sebuah gaun). Yang membedakannya lagi adalah gaun merah ini setengah harga lebih murah dari gaun putih tersebut. Akhirnya selain membelikan adikku gaun, aku juga membelikan diriku gaun.


Kisah kedua


Aku pernah mendapat sebuah sms dari seorang teman mengenai bis. Cinta itu ibarat menantikan bis. Ketika bis pertama berhenti di depanmu, namun kamu tidak naik karena bis tersebut panas. Lalu bis kedua datang, namun kamu juga tidak naik karena terlalu sesak. Bis ketiga yang lewat pun kamu tidak naik karena bis tersebut kotor. Saat kamu kehabisan waktu, tidak ada bis lagi yang lewat.


Sms tersebut kubalas begini. "Kalau tidak ada lagi bis yang lewat, aku akan telpon teman untuk dijemput atau aku akan jalan kaki."


Aku tahu teman yang mengirimkan sms tersebut bermaksud baik. Dia tidak ingin aku terlalu pemilih hingga akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Namun benarkah semudah itu memilih pasangan hidup? Asal comot saja tanpa doa dan pertimbangan yang matang.


Kisah gaun yang tak terbeli itu mengajarkanku tentang kesabaran. Kita seringkali tidak sabar dalam menantikan pasangan hidup dari Tuhan. Kita asal memilih orang yang menyukai kita karena kita takut kehabisan waktu, kita iri dengan teman-teman yang telah punya pacar/menikah. Ketika aku sabar, akhirnya aku memiliki gaun yang kuinginkan.


Mari kita belajar tentang kesabaran... Kesabaran akan pemenuhan janji Allah dalam hidup kita...Sambil menantikan pemenuhan janji, jadikanlah dirimu layak bagi Allah karena sebenarnya cinta pertamamu harusnya kamu berikan pada Allah.


"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya." Pengkhotbah 3:1


Ini ku-copy paste dari notes adikku, Jeng Seriana


My Prayer


Lord, I pray for a man, that will be a part of my life

A man that really loves You more than everything

A man that will put me in the second place of his heart

A man that lives not for himself but for You

The most important is I want a heart that really loves and thirsty of You

and has a desire to be like Jesus



And he must know for whom and for what he lives

so his life isn’t useless

Someone that has a wise heart, not only a smart brain

A man that not only loves me but also respect me

A man that not only adores me but can warn me when I’m wrong

A man that loves me not because my beauty but my heart

A man that can be my best friend in everytime and situation

A man that can make me feel like a woman when I’m beside him



But I ask for imperfect man

so I can make him perfect in Your eyes

A man that needs my support for his strength

A man that needs my prayers for his life

A man that needs my smile to cover his sadness

A man that needs my love so he feels being loved

A man that need me to make his life beautiful



And I also ask make me to be a woman

that can make him proud

Give me a heart that really loves You

so I can love him with Your love

And not love him only with my love

Give me Your gentle spirit

so my beauty not come from my outside but come from You

Give me Your hands, that I am always able to pray for him



Give me Your eyes

so I could see many good thing in him and not the bad one

Give me your mouth

That filled with Your words of wisdom and encouragement

so I can support him everyday

Give me Your lips

And I will smile at him every morning



And I want that finally we meet

Both of us can say How great Thou art

That You give me some one that can make my life perfect

I know that You want us to meet at the right time

And You will make everything beautiful in Your time



Amen

Tuesday, August 31, 2010

Jika Kau Berpikir Jauh Ke Depan

Pengamen bukan suatu pemandangan baru lagi di Jakarta ini. Hampir di seluruh pelosok ibukota ini ada pengamen. Bukan hanya di Jakarta saja, pengamen sudah merambat ke Bandung, dan bahkan yang tak saya sangka sampai ke Makassar. Kalau hanya sekedar nyanyi dan meminta bayaran seikhlasnya sih tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah pengamen bukan hanya mengamen saja, namun juga berpraktek sebagai pemalak bahkan penodong. Kejadian ini tiga kali saya alami dalam bis arah Senen-Islamic. Pengamen tersebut mengancam dengan kasar dan menggunakan pisau lipat. Kali pertama itu karena takut saya memberikan uang seribu rupiah. Kali kedua dan ketiga sewaktu diancam, saya sudah tidak takut lagi. Mau bunuh, silahkan bunuh saja. Saya tidak takut. Bahkan tatapannya saya balas dengan tatapan yang lebih mematikan lagi. Jika tampak takut, dia/mereka akan lebih berani lagi.

Berbicara mengenai pengamen, pada beberapa waktu lalu saya pernah pelayanan ke mereka dalam bentuk mengajarkan pelajaran sekolah. Waktu itu saya mengajarkan seorang anak perkalian dua dan tiga. Selama hampir dua jam belajar, namun dia tidak bisa juga menghafalkan. Mengalami hal itu, saya berkata dalam hati. "Mengapa menghafal perkalian dua dan tiga saja sulit sekali padahal di sekolah pun telah diajari, namun menghafalkan lagu-lagu untuk dinyanyikan pada saat mengamen sangat cepat?"

Mengamen untuk bertahan hidup atau belajar, manakah yang penting? Kalau kau bertanya pada anak-anak tersebut, mereka tentu saja akan menjawab "Ngamen." Hal sama kau tanyakan pada diri saya, mungkin akan saya jawab dengan jawaban yang sama seperti anak-anak itu.

Mengamen menghasilkan sesuatu yang dapat segera dilihat, dalam hal ini tentu saja uang. Didapat dengan mudah dan cepat. Cukup bermodalkan suara, lagu, tepukan tangan, dan tangan yang menengadah. Sebaliknya, sekolah itu sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk melihat hasilnya. Harus melewati taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas/kejuruan. Itu pendidikan minimal untuk diterima kerja dan hasilnya pun tidak seberapa. Untuk mendapatkan lebih dari itu, harus melewati perguruan tinggi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setelah lulus pun tidak mungkin langsung bisa diterima kerja dan mendapatkan hasil yang berkelimpahan. Bila dilihat dari sudut pandang seperti itu, mengamen lebih menjanjikan daripada sekolah.

Benarkah seperti itu? Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Lihatlah hal ini dalam konteks jauh ke depan dan lebih luas. Apakah yang mereka dapatkan di jalanan? Anak-anak itu tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak takut akan Tuhan padahal takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Pengetahuan bahwa merokok dalam jangka waktu panjang akan merusak kesehatan. Pengetahuan bahwa seks bebas akan menyebabkan penyakit menular seksual. Selain itu seks bebas sebagian besar menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan. Dari situlah terjadi aborsi yang bukan hanya membahayakan ibu tapi juga janin. Pengetahuan bahwa pemakaian obat-obatan terlarang memang memberi kenikmatan namun hanya sementara. Pemakai obat-obatan terlarang menjadi ketagihan. Dosis semula menjadi tidak memuaskan. Semakin hari dosis semakin meningkat. Semakin meningkat dosis, butuh semakin banyak pula uang untuk membelinya. Dari mana uang tersebut didapat? Apakah hasil ngamen bisa menutupi kebutuhan tersebut? Tentu saja tidak. Bagaimana untuk mendapatkan uang lebih? Menodong, mencopet, mencuri, merampok menjadi pilihan selanjutnya. Pengetahuan bahwa mabuk-mabukan itu berbahaya. Merusak kesehatan, membuat diri tidak awas dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Orang mabuk ditabrak. Bukan hal biasa lagi dibaca di koran-koran dan disiarkan di televisi. Apakah ada yang bertahan di jalanan dan menjadi sukses? Sukses dengan jalan yang bersih tentunya. Bukankah lebih banyak dari mereka yang berakhir dengan kematian? Sungguh sedih mereka menempatkan diri sendiri dalam lingkaran setan.

Sayangnya hanya sedikit yang mau melepaskan diri dari lingkaran setan ini. Belajar. Bersekolah. Memperbaiki diri. Membuat hidup menjadi lebih baik. Mereka lebih memilih menjadi orang bodoh dengan menghina hikmat dan didikan.

Bagaimanakah nasib bangsa ini ke depan jika generasi mudanya memilih untuk tidak takut akan Tuhan, memilih menjadi orang bodoh dengan menghina hikmat dan didikan?

Wednesday, August 25, 2010

Lesson For Today : Pak Satpam Di Kompleks Kosku

Wuih... Segar rasanya sudah selesai mandi. Sambil memikmati potongan-potongan melon orange, aku mengecek email-email yang masuk, membuka facebook, meng-update status, membalas dan mengirim sms, serta tak lupa memikirkan kalimat apa yang seharusnya kutulis.

Hmm... Banyak hal menarik yang terjadi hari ini sejak pukul 06.45 pagi sampai pukul 09.00 malam aku balik ke kos. Hari ini cukup sibuk. Mulai dari menggodai anak kecil lucu yang berjalan-jalan bersama kakeknya di kompleks; kerjaan di puskesmas; ketinggalan bis pulang (Syukurlah aku ketinggalan bis sehingga aku bisa makan siang dulu. Kalau tidak, mungkin sampai malam aku belum makan); ke bank menyetor uang untuk membayar tagihan listrik dan gaji pembantu; retur dan membeli sneli buat teman; mengambil obat-obatan buat keluarga binaan lalu balik pulang.

“Huh... Udara panas banget hari ini.” Keluhku dalam hati. Udara Jakarta hari ini seperti biasanya tidak pernah bersahabat dengan siapa saja. Berdebu dan panas.

“Bang... Cepetan jalan dong. Jangan lama-lama. Di sini panas banget.” Seru seorang ibu yang duduk di sebelahku. Namun tampaknya sopir bis tidak mendengarkannya. Sopir itu masih dengan setia menunggu bisnya dipenuhi penumpang melebihi kapasitas.

“Dek... Berapa harga koran Media Indonesia?” Tanya ibu tadi kepada seorang penjual koran yang masuk ke dalam bis.

“Dua ribu.” Jawab penjual koran itu.

“Saya beli satu.” Ibu itu menyodorkan selembar uang dua ribuan. Awalnya kupikir ibu itu mau mengisi waktunya dengan membaca koran sembari menunggu bis jalan, namun rupanya aku salah. Ibu itu menggunakan koran tersebut untuk mengipas-ngipasi dirinya supaya sejuk. Puji Tuhan... Di tengah panasnya cuaca, aku kecipratan rezeki merasakan kesejukan kipasan koran si ibu. Aku tertawa dalam hati melihat kelakuannya sembari berpikir. “Sepertinya hari ini akan hujan.” Tak lama kemudian, setelah keluar dari tol kebun jeruk rintik-rintik hujan mulai membasahi kaca jendela depan bis. Rintik-rintik itu lalu berubah menjadi deras. Sekali lagi aku tertawa dalam hati. “Sepertinya Tuhan tahu kalau hari ini aku lengket, gerah sekali, dan mau keramas nanti setelah sampai di kos.”

Dalam bis, aku memikirkan bagaimana cara meminimalkan kebasahan yang paling baik? Apakah aku harus menggunakan angkot putih, turun di mal lalu naik shuttle bis ke kos? Ataukah naik angkot putih, turun di depan jalanan masuk lalu berjalan kaki ke kos? Ternyata setelah dipikir dengan baik, apapun cara yang kugunakan, aku tetap saja akan basah. Akhirnya aku menggunakan pilihan kedua.

Singkat cerita, tibalah aku di depan jalanan masuk kompleks kos. Di depan jalanan masuk itu ada pos satpam. Seperti biasa, kami saling bertukar salam. “Selamat malam.”

Sambil berjalan ke kos, entah mengapa aku memikirkan mengenai satpam itu. Pikiran itu mengantarkanku pada sebuah ingatan lama mengenai satpam di kos yang pertama kali kutempati saat mulai kuliah.

Mungkin ada sekitar dua tahun aku tinggal di kos pertama itu. Setiap hari, aku bertukar salam dan kabar dengan satpam-satpam di sana. Jujur... Walaupun sering bertemu, bertukar salam dan kabar, aku tidak pernah ingat mereka secara khusus. Tapi rupanya mereka tidak seperti aku yang dengan mudah melupakan. Mereka masih ingat aku.

“Selamat sore Non.” Begitulah sapaan yang kuterima saat melangkah masuk ke dalam kompleks perumahan tempat adik-adik kelasku kos.

“Sekarang tinggal di sini ya... Pantesan saya sudah tidak pernah lihat lagi.” Aku terkejut. Dia mengenaliku. Apakah aku mengenalinya? Lama kupandangi dirinya sambil berusaha mengembalikan ingatanku. Di mana aku mengenal dirinya? Dia lalu mengenalkan dirinya sebagai satpam di kompleks perumahan tempat kosku dulu.

Bukan hanya sekali kejadian yang berhubungan dengan satpam itu terjadi. Di kompleks perumahan tempat seorang teman tinggal, aku dikenali oleh satpam kompleks perumahan kosku yang lama. Satpam itu dipindah tugaskan ke sana. Kejadian serupa juga pernah terjadi di dalam angkot, satpam itu mengenaliku sementara aku lupa padanya.

Menjadi Terkenal

Keong Racun... Lagu itu sempat marak akhir-akhir ini di media massa. Lipsync yang dibawakan oleh Sinta dan Jojo dan di-upload di Youtube membuat keduanya terkenal. Mereka bahkan telah dikontrak untuk menjadi artis. Apakah menjadi terkenal menjadi sedemikian pentingnya?

Realitanya memang seperti itu. Menjadi terkenal sangat penting. Lebih baik dikenal daripada mengenali. Karena itu setiap orang berlomba-lomba membuktikan dirinya eksis di dunia ini. Segala cara dilakukan untuk membuat diri terkenal bahkan termasuk melakukan hal-hal yang tidak benar.

Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak (Yesaya 53:1-12)

Dan...

Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau. (Mazmur 139:1-18)

Bagaimana korelasi antara kisah satpam, Jojo dan Sinta dengan ayat di atas...? Jika direnungkan secara lebih mendalam, akan ditemukan sebuah ironi…

Allah mengenal kita. Dia mengenal kita bahkan sebelum kita dibentuk. Dia sudah merancangkan semua yang baik untuk kita. Bagaimana dgn kita sendiri?

Oh... Sungguh menyedihkan... Kita tidak mengenali-Nya. Kita mendukakan hati-Nya. Karena dosa kitalah sehingga Kristus mengalami penganiayaan bahkan mati disalib.

Refleksi

Bagaimana hubungan pribadi kita selama ini dengan Allah? Apakah kita menyediakan waktu untuk bertemu dengan-Nya? Berkomunikasi dengan-Nya? Mencari tahu kehendak-Nya?

Sebagai pkk, pengurus. Apakah kita sudah menyediakan waktu untuk orang-orang yang kita layani? Apakah kita mengetahui kebutuhan-kebutuhan mereka bukan memuaskan keinginan kita akan kesombongan rohani?

Sebagai anggota keluarga. Bagaimana hubungan kita dengan keluarga kita? Apakah kita mengenali secara pribadi masing-masing anggota keluarga kita?

Secara sosial. Apakah kita mengetahui peranan kita di masyarakat? Masyarakat dan negara butuh apa? Apa yang bisa berikan untuk mereka yang membutuhkan? Bukan hanya kebutuhan akan materi namun juga kebutuhan akan Injil. Bagaimana hubungan kita dengan teman-teman? Sudahkah kita menjadi sahabat yang baik?

Saturday, July 31, 2010

Dua Benang Rajut

Sebenarnya tulisan ini adalah postingan dari blogku sebelumnya di friendster yang telah diedit sedemikian rupa sehingga menjadi lebih menarik dan mudah dimengerti.

Sungguh mengejutkan bahwa aku bisa merajut. Mengapa aku katakan itu luar biasa? Karena sebelumnya setiap kali aku belajar keterampilan tangan pastilah hasilnya kacau. Ketertarikanku merajut dimulai saat melihat seorang adik kelas yang sedang merajut. Lalu aku bertanya padanya. ”Di mana kamu belajar merajut?”

Benang pertama yang kugunakan untuk merajut berwarna kuning. Aku menyukai warna itu. Menurutku benang kuning itu ukurannya besar dan teksturnya agak kasar (maafkan aku benar-benar masih pemula sehingga tidak tahu apa-apa sama sekali). Oiya, aku lupa mengatakan bahwa aku diajar merajut oleh penjaga toko tempatku membeli benang. Dia mengajariku membuat syal. Dengan penuh kegairahan, aku merajut hingga benangnya habis. Walaupun benangnya sudah habis namun panjang syal yang aku inginkan belum tercapai.

Suatu ketika, aku berjalan-jalan ke sebuah toko buku. Waktu itu entah mengapa aku menuju ke bagian kerajinan tangan. Di sana aku menemukan buku membahas mengenai bagaimana merajut yang menurutku cara menyajikannya sederhana (Aku bukan orang yang pandai mengikuti instruksi. Untuk melakukan sesuatu aku harus melihat langsung pembuatannya bukan dengan hanya mambaca lalu mengikuti petunjuk). Karena itulah aku langsung membeli buku tersebut.

Setelah membeli buku tersebut, aku menuju ke toko yang menjual benang rajut. Di sana benang yang aku inginkan tidak ada lagi. Pilihan warna di sana juga tinggal sedikit. Lama sekali aku bimbang. Bingung memutuskan harus membeli benang warna apa. Kuning cocoknya dengan warna apa ya? Setelah berpikir akhirnya aku memutuskan membeli benang warna biru. Aku selalu menyukai kombinasi biru-kuning.

Setibanya di kos, aku membandingkan kedua benang tersebut. Ternyata benang yang aku beli itu teksturnya tidak sama dengan benang yang kugunakan sebelumnya walaupun mempunyai merek yang sama. Benang biru itu teksturnya lebih halus dan ukurannya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan yang kuning.

Menurutku syal yang telah dibuat tadi jelek. Kerena itu aku memepaskan jalinan-jalinan benang. Aku berencana membuat ulang syal tersebut. Benang biru dan kuning itu aku kombinasikan sehingga walaupun tidak sama, salah satunya jelek, namun memberikan hasil yang bagus.

Melihat hal itu, membuatku berpikir. Hampir semua orang mencari pasangan yang sama persis seperti dirinya. Mempunyai hobi yang sama. Menyukai makanan yang sama. Memang komunikasi terbentuk karena terdapat suatu minat yang sama. Namun jika persis sama, bukankah itu sungguh membosankan? Tidak ada sesuatu baru yang dapat kita pelajari dari pasangan.

Seperti benang tadi, walaupun berbeda namun keduanya saling melengkapi. Tidak ada yang melihat benang kuning jelek atau benang biru bagus. Yang terlihat adalah sebuah syal yang indah.

Friday, July 30, 2010

Saat Kau Merasa Lelah

Kelelahan. Itulah perasaan yang pertama kali aku rasakan begitu masuk ke dalam bis. Aku baru tidur ketika azan subuh dikumandangkan. Akhir-akhir ini memang siklus tidurku mengalami gangguan. Sebelum tidur, aku menyetel alarm yang menurutku tidak banyak berguna. Alarm ponselku memang rada aneh. Dia suka berbunyi pada waktu yang berbeda dengan yang telah diatur. Karena itulah, aku berkata pada diri sendiri. "Kamu harus bangun sebelum pukul sembilan." Mengapa pukul sembilan? Karena pada jam segitu aku harus menghubungi dosen untuk menanyakan kepastian waktu dan tempat untuk briefing.

Bermacam-macam rencana sudah aku buat untuk hari ini. Mulai dari ke kost teman mengambil oleh-oleh, tandatangan absen, minta tanda tangan koordinator bagian, mencari kost serta menitip ransel ke teman di Lippo Karawaci.
Ransel yang kubawa berisi pakaian, peralatan mandi dan make up. Ini adalah senjataku untuk hidup selama seminggu penuh ke depan. Coba kamu bayangkan betapa beratnya ransel itu. Mungkin beratnya tidak akan terasa jika jarak yang kau tempuh untuk membawanya itu dekat, tidak ditambah dengan udara yang panas, macet, dan polusi. Sayangnya jarak yang harus kutempuh bersama ransel itu tidak dekat. Kami memulai perjalanan menggunakan mikrolet dari Pasar Kramat Jati menuju ke Kampung Melayu. Dari Kampung Melayu perjalanan diteruskan ke Terminal Senen serta berakhir di Lippo Karawaci. Diperburuk oleh kondisi Jakarta siang hari ini tidak bersahabat.

"Tuhan, hari ini aku lelah sekali." Kalimat itulah yang kuucapkan dalam hati. Aku butuh kenyamanan. Sebuah bahu yang kuat untuk tempatku bersandar juga tenggaman tangan yang lembut. Ketika tiba di rumah aku menginginkan sambutan hangat berupa senyuman manis dan pelukan sayang.

Entah mengapa seketika itu aku teringat pada ayat ini. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Matius 11:28

Kemudian aku juga teringat akan sebuah peristiwa aneh yang pernah kualami. Hari itu aku sangat lelah sama seperti sekarang. Sebelum tidur, aku berdoa. Aku bilang ke Tuhan. "Tuhan, hari ini aku capek banget. Maukah Kau memelukku saat tidur?" Sungguh suatu hal luar biasa terjadi. Aku bermimpi dipeluk Tuhan. Anehnya pada saat bangun keesokan harinya, aku merasa telah dipeluk oleh seseorang ketika sedang tidur.

Ransel itu ibarat beban kehidupan yang kita tanggung. Berisi masalah-masalah dalam hidup seperti: keluarga, keuangan, karier, dan lain sebagainya. Kita merasa lelah dengan semuanya itu. Saat merasa lelah, kau bukan hanya butuh mandi berendam yang lama, minum segelas susu hangat, ataupun tidur yang lama. Kau membutuhkan sebuah ucapan lembut :
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Matius 11:28.

Saat itu juga aku merasa Tuhan membuat suasana menjadi teduh, tenang, dan damai. Aku pun bisa menikmati perjalanan.
Melihat kerlipan cahaya lampu yang berwarna-warni. Arus lalu lintas yang relatif lancar. Tidak terdengar bising kendaraan yang berlalu lalang. Yang terdengar hanyalah nyanyian sumpang yang dilantunkan oleh pengamen. Aku bisa bernafas lega sekaligus mata bisa diistirahat sejenak karena tidak terhalang oleh polusi asap. Hmm... Aku menyukai hempusan semilir angin yang menerbangkan helaian-helaian rambutku melalui jendela yang dibuka setengah. Rasanya menyenangkan. Menenangkan. Itulah yang aku rasakan dalam bis yang melaju dari Lippo Karawaci menuju ke Terminal Senen.