Welcome...

Selamat datang di blog saya. Senang sekali ada yang mau berkunjung. Mencoba menjadi penulis yang baik. Menuliskan topik yang terjadi di sehari-hari berdasarkan pengalaman pribadi, lumayan panjang (walaupun capek mikir dan ngetik wakakaka...), inspiratif, informatif, dan tidak membosankan pembaca (karena saya males baca sebenarnya)... Semoga blog ini bermanfaat buat semua yang mampir. Terima kasih... :)

Friday, December 17, 2010

Kesan Penonton

Sudah dua hari ini aku nonton film berturut-turut. Salah satu film yang aku tonton itu The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader. Dari film itu, aku menangkap beberapa pelajaran berharga di dalamnya. Berikut ini aku akan membagikan beberapa pelajaran penting yang aku dapat.
  1. Ketidakpercayaan Eustace ketika melihat seekor tikus yakni Reepicheep dapat berbicara seperti manusia.Eustace berpikir apakah saat ini dia sedang bermimpi? Ketika menyaksikan adegan itu, aku sepertinya dihadapkan pada suatu peristiwa penting di dalam Alkitab. Masih ingat peristiwa "Yesus Menampakkan Diri Kepada Tomas" - Yohanes 20:24-28? Terkadang kita seperti Tomas, kita meragukan mengenai Tuhan kita Yesus Kristus. Kita meragukan banyak hal. Kita meragukan apakah Dia sungguh-sungguh bangkit? Kita meragukan bahwa Dia Tuhan. Kita meragukan kasih penyertaan-Nya. Kita meragukan kuasa-Nya, bahwa Dia berkuasa atas segalanya. Mengapa kita mesti ragu? Dia benar-benar adalah Tuhan kok. (Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat-Ibrani 11:1).
  2. Juga ada adegan dimana Eustace didorong oleh Reepicheep untuk terus maju ketika menghadapi masalah. Dari sana aku belajar tentang keberanian untuk menghadapi masalah bukan lari dari masalah. Aku selalu suka dengan Reepicheep karena dia selalu optimis, mengambil hal postif dari setiap ketidakberuntungan yang terjadi, yang paling penting dia sangat percaya dan mau berjuang untuk Narnia, untuk Aslan.
  3. Ketika sampai ke adegan Lucy yang sangat ingin menjadi cantik seperti Susan, aku teringat pada seseorang dan make up. Seperti halnya Lucy, seseorang ini menganggap make up itu sangat penting untuk membuat cantik. Ketika Lucy sudah bersentuhan dengan make up atau apapun itu, dia kehilangan identitasnya. Dia berubah menjadi orang lain (Susan). Banyak yang mengkritik C.S. Lewis karena menganggap dia anti terhadap perempuan. Kritik itu muncul karena Susan tidak dapat lagi masuk ke Narnia karena telah mengenal lipstik, dll. Menurutku, maksud C.S. Lewis bukan seperti itu. Menurut aku, maksud C.S. Lewis itu Susan sudah tidak benar-benar murni lagi hatinya. Hatinya telah terbagi dengan hal-hal lain (lipstik dll). Dari sini kita dapat belajar bahwa kecantikan itu bukan polesan bedak di wajah atau lipstik di bibir kita, namun kecantikan itu apa yang berasal dari hati kita. Kita juga dapat belajar bahwa untuk berkenan kepada Allah, hati kita harus benar-benar murni. Kita harus punya hati seperti seorang anak kecil (Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub." Mazmur 24:3-6)
  4. Sampailah kita pada adegan terakhir di mana semuanya bertemu dengan Aslan. Di mana mereka akan ke dunianya Aslan. Di sini kita dapat melihat bahwa Caspian menolak ke dunia Aslan karena tidak bisa meninggalkan rakyatnya. Begitupula dengan Edmund, Lucy, dan Eustace, mereka pun menolak untuk pergi. Dari semuanya hanya Reepicheep yang bersedia pergi. Ketika pergi, Reepicheep meninggalkan pedangnya karena beranggap pedang sudah tidak diperlukan lagi di dunia Aslan. Dari sini kita dapat belajar bahwa jika Allah memintamu untuk melepaskan semua hal yang kamu miliki untuk mengikuti Dia, apakah kamu akan melepaskannya? Di sini kita melihat bahwa Caspian, Edmund, Eustace dan Lucy tidak dapat pergi. Kita juga melihat bahwa Aslan menghormati pilihan mereka. Begitu juga Allah, Dia menghormati apapun pilihan kita dan apapun pilihan kita itu haruslah kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Kita juga dapat belajar dari Reepicheep, ketika dia mengikuti Aslan ke dunianya, dia melepaskan pedangnya padahal pedangnya adalah kebanggaannya. Begitu juga kita, ketika kita mengikuti Allah, kita harus melepaskan semua kebanggaan kita. Bukan hanya itu, aku mengambil kesimpulan bahwa Reepicheep menganggap pedang itu tidak perlu karena dia yakin bahwa di dunia Aslan pedangnya sudah tidak diperlukan lagi. Di dunia Aslan tidak ada yang namanya perang, yang ada hanya kedamaian.
Pertanyaan penting yang aku renungkan ketika selesai menonton film ini. "Siapkah aku ikut Tuhan?"

4 comments:

  1. Thanks for sharing ^_^

    ReplyDelete
  2. lho ci... kok 2 paragraf pertama simbol2 gt..
    apa di laptopku doang yah...hm..

    ReplyDelete
  3. Masa c her? D sini baik2 saja. D komputer warnet jg baik2 saja. Ada apa y?

    ReplyDelete